Jurnal Nusantara, Sumenep, Jawa Timur — Sebuah video yang memperlihatkan ribuan warga mengantre panjang sejak siang hari di sekitar Musala Wakaf Abdullah, Kelurahan Kepanjen, Kecamatan Kota, Kabupaten Sumenep, menjadi viral di berbagai platform media sosial, terutama Instagram. Tayangan itu mencuri perhatian warganet karena menunjukkan antusiasme luar biasa masyarakat menjelang pelaksanaan salat tarawih pertama Ramadan 1447 Hijriah.
Dalam unggahan yang dibagikan akun @undercover.id pada Minggu siang, tampak ruas jalan di depan musala penuh dipadati warga yang membawa sajadah, kursi lipat, dan peralatan ibadah lain saat mereka rela tiba lebih awal, bahkan sejak pukul 14.00 WIB, untuk memastikan mendapatkan tempat terbaik. Antrean panjang itu bahkan meluber hingga ke badan jalan, menggambarkan tingginya minat jamaah di malam pertama Ramadan.
Dalam rekaman tersebut, ribuan warga terlihat berdiri dan duduk berjejer rapi di sepanjang trotoar dan badan jalan. Banyak dari mereka membawa perlengkapan khusus seperti sajadah, payung, dan kursi lipat untuk mengamankan posisi lebih awal. Caption video yang viral menyebut bahwa warga sudah “booking tempat tarawih sejak jam 2 siang”, meskipun waktu salat masih beberapa jam lagi.
Beberapa pengguna media sosial yang menonton video ini memberikan komentar beragam. Ada yang memuji semangat jamaah menyambut Ramadan, namun tidak sedikit pula yang mempertanyakan fenomena antre panjang tersebut karena dianggap menguras tenaga di tengah cuaca panas.
Antrean panjang terjadi tepat di depan Musala Wakaf Abdullah, salah satu titik tempat ibadah yang ramai dikunjungi warga setempat untuk melaksanakan salat tarawih. Musala ini terletak di pusat kota Sumenep, sehingga tidak hanya jamaah lokal tetapi juga warga dari desa sekitar yang datang sejak siang hari.
Tradisi Tarawih dan Zakat Mal Rp300 Ribu
Tidak hanya semangat ibadah tarawih yang menjadi alasan warga datang lebih awal. Faktor lain yang ikut menarik perhatian publik adalah tradisi pembagian zakat mal kepada jamaah. Banyak laporan menyebut bahwa setelah pelaksanaan tarawih, panitia akan membagikan bantuan zakat mal berupa uang tunai senilai Rp300 ribu per orang. Tradisi ini disebut telah berlangsung setiap Ramadan dan menjadi agenda rutin yang ditunggu masyarakat setempat.
Zakat mal tersebut diketahui berasal dari tokoh masyarakat dan politisi senior di wilayah itu, yakni MH Said Abdullah, yang secara rutin menyalurkan bantuan tersebut dalam amplop putih tanpa logo kepada jamaah yang hadir. Uang tunai itu dibagikan setelah salat tarawih selesai, sehingga warga perlu mengantri panjang baik sebelum maupun sesudah ibadah.
Menurut sejumlah warga yang ditemui di lokasi, tradisi ini sudah dianggap sebagai bentuk budaya sosial dan spiritual di Sumenep. “Selain beribadah, momen ini juga menjadi kesempatan warga untuk berkumpul, saling bersilaturahmi, dan menerima berkah zakat,” ujar seorang jamaah yang enggan disebutkan namanya.
Fenomena antrean panjang ini menuai pro dan kontra di kalangan warganet. Di satu sisi, banyak netizen memuji semangat warga dalam melaksanakan ibadah tarawih awal Ramadan, termasuk kesiapan mereka datang jauh lebih awal demi mendapatkan posisi terbaik saat shalat berjamaah.
Namun di sisi lain, sebagian komentar menyoroti adanya unsur motivasi non‑spiritual, yakni karena zakat mal yang dibagikan setelah tarawih. Sejumlah pengguna media sosial mempertanyakan apakah antrean pagi hingga siang itu murni karena ibadah atau juga karena insentif zakat tunai yang ditunggu warga.
Komentar lain menyinggung pentingnya menjaga tertib dan etika saat mengantre di tempat ibadah, termasuk memperhatikan kenyamanan jamaah lain serta keselamatan di jalan umum yang dipadati warga.
Fenomena ini kembali menunjukkan bagaimana tradisi lokal dan kegiatan agama di Indonesia sering berkaitan erat dengan dinamika sosial masyarakat. Antrean panjang warga Sumenep ini mencerminkan kombinasi antara semangat religius menyambut Ramadan dan tradisi lokal yang melibatkan pemberian bantuan zakat.
Bagi sebagian warga, hal ini menjadi momen berkumpul, mempererat tali silaturahmi, dan menambah kekhusyukan dalam menjalankan ibadah. Namun bagi yang lain, fenomena ini memicu diskusi tentang prioritas semangat beribadah dan motivasi‑motivasi lain yang menyertainya.







