Jurnal Nusantara, Semarang — Denting lonceng kelenteng, aroma dupa yang mengepul pelan, serta kilau ribuan lampion merah menandai perayaan Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili di Kota Atlas. Di tengah denyut modernitas, Semarang kembali menunjukkan wajahnya sebagai ruang temu budaya yang teduh dan bersahabat.
Sejak malam pergantian tahun, umat Tri Dharma memadati Kelenteng Tay Kak Sie untuk melaksanakan ritual Sembahyang Sang Sin. Ibadah yang sarat makna itu menjadi momentum spiritual untuk menutup lembaran lama dan membuka harapan baru. Sejumlah media lokal, termasuk iNews Semarang, melaporkan suasana khidmat yang menyelimuti kawasan Gang Lombok, pusat komunitas Tionghoa di kota ini.
Di luar ruang ibadah, perayaan bergerak menjadi pesta rakyat. Kawasan Pecinan menjelma panggung budaya melalui gelaran Pasar Imlek Semawis. Berdasarkan laporan Media Indonesia, ribuan warga tumpah ruah menikmati ragam kuliner khas, pertunjukan barongsai, serta musik tradisional yang berpadu dengan nuansa kekinian. Stan UMKM berdiri berderet, menjadi bukti bahwa Imlek tak hanya menyala dalam tradisi, tetapi juga menggerakkan roda ekonomi lokal.
Semarak juga terasa di kompleks Kelenteng Sam Poo Kong. Ikon sejarah akulturasi Tionghoa-Jawa itu menjadi salah satu titik perhatian dalam rangkaian agenda budaya. Pemerintah daerah bersama komunitas setempat memastikan perayaan berlangsung aman dan terbuka bagi seluruh warga tanpa sekat.
Laporan RRI Semarang menyebutkan, perayaan tahun ini turut terhubung dalam rangkaian Harmoni Imlek Nusantara yang digelar di berbagai daerah. Semarang pun kembali menegaskan reputasinya sebagai kota dengan tradisi toleransi yang mengakar.
Ruang Bersama dalam Balutan Tradisi
Imlek di Semarang bukan sekadar pesta tahunan. Ia adalah cermin sejarah panjang interaksi budaya yang membentuk identitas kota pelabuhan ini. Di Pecinan, percampuran arsitektur, bahasa, hingga cita rasa kuliner menjadi saksi hidup perjalanan waktu.
Warga dari beragam latar belakang tampak larut dalam kegembiraan yang sama. Anak-anak berlarian membawa lampion, wisatawan berburu sudut foto, sementara keluarga menikmati santap malam di bawah cahaya merah yang menggantung.
Perayaan ini menjadi penegas bahwa keberagaman bukanlah batas, melainkan jembatan. Di Semarang, Imlek tumbuh sebagai milik bersama dirayakan dengan sukacita, dijaga dengan hormat, dan diwariskan sebagai warisan budaya yang terus hidup di tengah masyarakat Nusantara.












