Jurnal Nusantara, PALANGKA RAYA — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Tengah tidak hanya mengancam keselamatan masyarakat dan ekosistem hutan, tetapi juga memberikan dampak serius terhadap satwa liar, khususnya orangutan yang menjadi salah satu satwa dilindungi Indonesia.
Sedikitnya 21 orangutan di kawasan Nyaru Menteng, Kalimantan Tengah, menunjukkan gejala Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) setelah terpapar asap pekat akibat karhutla. Kondisi tersebut menjadi perhatian serius karena meskipun kawasan konservasi belum tersentuh api, asap telah lebih dahulu memasuki wilayah tempat orangutan menjalani proses rehabilitasi dan reintroduksi.
Situasi ini memperlihatkan bahwa dampak karhutla tidak selalu hadir dalam bentuk kobaran api yang terlihat. Asap dan penurunan kualitas udara juga dapat menjadi ancaman serius bagi kehidupan satwa yang berada di sekitar kawasan terdampak.
Api Belum Masuk, tetapi Asap Sudah Mengancam
Kondisi di Nyaru Menteng menjadi gambaran bagaimana asap karhutla dapat bergerak jauh dari titik kebakaran dan memberikan dampak terhadap satwa liar.
CEO Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF), Jamartin Sihite, menyampaikan bahwa kawasan konservasi di Nyaru Menteng masih relatif aman dari ancaman api. Namun, kondisi tersebut tidak berarti satwa di dalam kawasan terbebas dari bahaya.
Paparan asap menyebabkan sejumlah orangutan menunjukkan gejala gangguan pernapasan. Kondisi tersebut membutuhkan pemantauan dan penanganan medis secara intensif agar tidak berkembang menjadi gangguan kesehatan yang lebih berat.
Bagi orangutan yang sedang menjalani proses rehabilitasi, kualitas udara menjadi salah satu faktor penting. Asap pekat dapat mengganggu sistem pernapasan satwa, terlebih ketika berlangsung dalam waktu yang panjang.
Tim Medis dan Konservasi Disiagakan
Menghadapi kondisi tersebut, tim konservasi meningkatkan pemantauan terhadap kesehatan orangutan. BOSF juga menyiagakan tenaga medis hewan dan berkoordinasi dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) untuk memastikan satwa yang mengalami gangguan kesehatan mendapatkan penanganan.
Sebelumnya, sejumlah orangutan liar yang terdampak karhutla juga telah dievakuasi untuk mendapatkan pertolongan. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya mencegah korban satwa akibat semakin buruknya kondisi lingkungan di wilayah terdampak kebakaran.
Ancaman terhadap orangutan semakin kompleks karena satwa tersebut tidak hanya menghadapi asap, tetapi juga potensi hilangnya sumber makanan dan habitat apabila kebakaran meluas.
Pemerintah Perkuat Satgas Penyelamatan Satwa Liar
Ancaman terhadap satwa liar akibat karhutla mendorong pemerintah memperkuat Satgas Penyelamatan Satwa Liar di Kalimantan Tengah.
Kementerian Kehutanan bersama BKSDA Kalimantan Tengah dan sejumlah organisasi konservasi memperkuat kerja sama yang selama ini telah berjalan. Di dalamnya terdapat Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF), Orangutan Foundation International (OFI), serta OFI UK.
Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menegaskan bahwa penguatan tersebut bukan pembentukan satgas baru. Pemerintah memilih memperkuat mekanisme kerja sama yang sudah ada agar kemampuan penyelamatan satwa dapat ditingkatkan dalam menghadapi dampak karhutla.
Menurut pemerintah, dampak karhutla tidak hanya dirasakan manusia, tetapi juga satwa liar yang berada di dalam maupun sekitar kawasan hutan.
Kematian Sempurna Menjadi Peringatan
Ancaman tersebut semakin mendapat perhatian setelah seekor orangutan Kalimantan bernama Sempurna di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, meninggal dunia setelah mengalami gangguan pernapasan yang diduga berkaitan dengan paparan asap karhutla.
Sempurna sebelumnya ditemukan dalam kondisi sangat lemah di kawasan perkebunan. Tim BKSDA Kalimantan Barat bersama organisasi penyelamat satwa memberikan pertolongan medis dan kemudian mengevakuasinya untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut. Namun, kondisinya terus memburuk hingga akhirnya dinyatakan mati.
Kasus Sempurna menjadi pengingat bahwa kabut asap bukan sekadar persoalan kualitas udara bagi manusia. Bagi satwa liar yang hidup di kawasan hutan dan habitat yang semakin terfragmentasi, asap dapat menjadi ancaman yang mematikan.
BKSDA dan YIARI Evakuasi Orangutan Terdampak Karhutla
Upaya penyelamatan juga dilakukan di Kalimantan Barat. BKSDA Kalimantan Barat bersama Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) melakukan evakuasi terhadap induk dan anak orangutan dari wilayah yang terdampak karhutla.
Evakuasi dilakukan sebagai langkah penyelamatan ketika kondisi habitat tidak lagi aman bagi satwa. Upaya tersebut sekaligus menunjukkan pentingnya respons cepat ketika kebakaran dan asap mulai mengancam habitat orangutan.
Situasi ini menjadi tantangan besar bagi upaya konservasi orangutan Kalimantan yang selama ini membutuhkan proses panjang, mulai dari penyelamatan, rehabilitasi, perawatan kesehatan hingga pengembalian satwa ke habitat yang sesuai.
Karhutla dan Masa Depan Habitat Orangutan
Karhutla memiliki dampak jangka pendek dan jangka panjang terhadap kehidupan orangutan. Dalam jangka pendek, asap dapat mengganggu sistem pernapasan dan kesehatan satwa. Sementara dalam jangka panjang, kebakaran dapat merusak vegetasi yang menjadi sumber makanan sekaligus mengurangi ruang hidup orangutan.
Ancaman tersebut menjadi semakin serius karena orangutan Kalimantan merupakan satwa yang dilindungi dan menghadapi tekanan habitat akibat perubahan penggunaan lahan, fragmentasi hutan, perburuan serta berbagai bentuk gangguan lingkungan.
Karena itu, penanganan karhutla tidak dapat hanya berorientasi pada pemadaman api. Perlindungan terhadap satwa liar dan habitatnya juga harus menjadi bagian integral dari penanganan bencana ekologis tersebut.
Menjaga Hutan Berarti Menjaga Kehidupan
Kondisi 21 orangutan yang mengalami gejala ISPA di Nyaru Menteng menjadi pesan penting bahwa dampak kerusakan lingkungan dapat menjangkau kehidupan manusia sekaligus satwa liar.
Ketika api membakar hutan, dampaknya tidak berhenti pada pohon dan lahan. Asap bergerak melintasi wilayah, mengganggu kualitas udara, mengancam kesehatan manusia, mengganggu satwa dan berpotensi merusak rantai kehidupan dalam ekosistem.
Penguatan satgas penyelamatan satwa oleh pemerintah, bersama BKSDA dan organisasi konservasi, diharapkan mampu mempercepat respons terhadap satwa yang terdampak karhutla.
Namun, upaya penyelamatan satwa tidak akan cukup apabila kerusakan habitat terus berulang. Pencegahan kebakaran, perlindungan kawasan hutan, penegakan hukum terhadap pembakaran ilegal, serta pemulihan ekosistem harus berjalan secara bersamaan.
Bagi orangutan yang kini masih berjuang menghadapi kepungan asap, keselamatan mereka bergantung pada kemampuan manusia menjaga hutan tetap menjadi rumah yang aman.
ASBI Media Center













