Saturday, September 12, 2026
Jurnal Nusantara
No Result
View All Result
  • Nasional
  • Mancanegara
  • Daerah
  • Lifestyle
  • Ekonomi
  • Hukrim
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Peristiwa
  • Politik
  • Nasional
  • Mancanegara
  • Daerah
  • Lifestyle
  • Ekonomi
  • Hukrim
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Peristiwa
  • Politik
No Result
View All Result
Morning News
No Result
View All Result
Home Nasional

Napas Orangutan di Tengah Kepungan Asap, Karhutla Kalteng Picu Ancaman Serius bagi Satwa Liar

admin by admin
September 7, 2026
in Nasional
0
Napas Orangutan di Tengah Kepungan Asap, Karhutla Kalteng Picu Ancaman Serius bagi Satwa Liar
5.7k
SHARES
4.5k
VIEWS
Share on FacebookShare on WhatsApp

Jurnal Nusantara, PALANGKA RAYA — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Tengah tidak hanya mengancam keselamatan masyarakat dan ekosistem hutan, tetapi juga memberikan dampak serius terhadap satwa liar, khususnya orangutan yang menjadi salah satu satwa dilindungi Indonesia.

Sedikitnya 21 orangutan di kawasan Nyaru Menteng, Kalimantan Tengah, menunjukkan gejala Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) setelah terpapar asap pekat akibat karhutla. Kondisi tersebut menjadi perhatian serius karena meskipun kawasan konservasi belum tersentuh api, asap telah lebih dahulu memasuki wilayah tempat orangutan menjalani proses rehabilitasi dan reintroduksi.

READ ALSO

Ratusan Siswa di Batukliang Dilarikan ke Puskesmas Usai Santap MBG, 352 Orang Terdampak

Lima Wartawan Hilang di Selat Sunda, Ketua AMKI Kabupaten Bandung: Semoga Segera Ditemukan dan Kembali ke Keluarga

Situasi ini memperlihatkan bahwa dampak karhutla tidak selalu hadir dalam bentuk kobaran api yang terlihat. Asap dan penurunan kualitas udara juga dapat menjadi ancaman serius bagi kehidupan satwa yang berada di sekitar kawasan terdampak.

Api Belum Masuk, tetapi Asap Sudah Mengancam

Kondisi di Nyaru Menteng menjadi gambaran bagaimana asap karhutla dapat bergerak jauh dari titik kebakaran dan memberikan dampak terhadap satwa liar.

CEO Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF), Jamartin Sihite, menyampaikan bahwa kawasan konservasi di Nyaru Menteng masih relatif aman dari ancaman api. Namun, kondisi tersebut tidak berarti satwa di dalam kawasan terbebas dari bahaya.

Paparan asap menyebabkan sejumlah orangutan menunjukkan gejala gangguan pernapasan. Kondisi tersebut membutuhkan pemantauan dan penanganan medis secara intensif agar tidak berkembang menjadi gangguan kesehatan yang lebih berat.

Bagi orangutan yang sedang menjalani proses rehabilitasi, kualitas udara menjadi salah satu faktor penting. Asap pekat dapat mengganggu sistem pernapasan satwa, terlebih ketika berlangsung dalam waktu yang panjang.

Tim Medis dan Konservasi Disiagakan

Menghadapi kondisi tersebut, tim konservasi meningkatkan pemantauan terhadap kesehatan orangutan. BOSF juga menyiagakan tenaga medis hewan dan berkoordinasi dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) untuk memastikan satwa yang mengalami gangguan kesehatan mendapatkan penanganan.

Sebelumnya, sejumlah orangutan liar yang terdampak karhutla juga telah dievakuasi untuk mendapatkan pertolongan. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya mencegah korban satwa akibat semakin buruknya kondisi lingkungan di wilayah terdampak kebakaran.

Ancaman terhadap orangutan semakin kompleks karena satwa tersebut tidak hanya menghadapi asap, tetapi juga potensi hilangnya sumber makanan dan habitat apabila kebakaran meluas.

Pemerintah Perkuat Satgas Penyelamatan Satwa Liar

Ancaman terhadap satwa liar akibat karhutla mendorong pemerintah memperkuat Satgas Penyelamatan Satwa Liar di Kalimantan Tengah.

Kementerian Kehutanan bersama BKSDA Kalimantan Tengah dan sejumlah organisasi konservasi memperkuat kerja sama yang selama ini telah berjalan. Di dalamnya terdapat Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF), Orangutan Foundation International (OFI), serta OFI UK.

Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menegaskan bahwa penguatan tersebut bukan pembentukan satgas baru. Pemerintah memilih memperkuat mekanisme kerja sama yang sudah ada agar kemampuan penyelamatan satwa dapat ditingkatkan dalam menghadapi dampak karhutla.

Menurut pemerintah, dampak karhutla tidak hanya dirasakan manusia, tetapi juga satwa liar yang berada di dalam maupun sekitar kawasan hutan.

Kematian Sempurna Menjadi Peringatan

Ancaman tersebut semakin mendapat perhatian setelah seekor orangutan Kalimantan bernama Sempurna di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, meninggal dunia setelah mengalami gangguan pernapasan yang diduga berkaitan dengan paparan asap karhutla.

Sempurna sebelumnya ditemukan dalam kondisi sangat lemah di kawasan perkebunan. Tim BKSDA Kalimantan Barat bersama organisasi penyelamat satwa memberikan pertolongan medis dan kemudian mengevakuasinya untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut. Namun, kondisinya terus memburuk hingga akhirnya dinyatakan mati.

Kasus Sempurna menjadi pengingat bahwa kabut asap bukan sekadar persoalan kualitas udara bagi manusia. Bagi satwa liar yang hidup di kawasan hutan dan habitat yang semakin terfragmentasi, asap dapat menjadi ancaman yang mematikan.

BKSDA dan YIARI Evakuasi Orangutan Terdampak Karhutla

Upaya penyelamatan juga dilakukan di Kalimantan Barat. BKSDA Kalimantan Barat bersama Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) melakukan evakuasi terhadap induk dan anak orangutan dari wilayah yang terdampak karhutla.

Evakuasi dilakukan sebagai langkah penyelamatan ketika kondisi habitat tidak lagi aman bagi satwa. Upaya tersebut sekaligus menunjukkan pentingnya respons cepat ketika kebakaran dan asap mulai mengancam habitat orangutan.

Situasi ini menjadi tantangan besar bagi upaya konservasi orangutan Kalimantan yang selama ini membutuhkan proses panjang, mulai dari penyelamatan, rehabilitasi, perawatan kesehatan hingga pengembalian satwa ke habitat yang sesuai.

Karhutla dan Masa Depan Habitat Orangutan

Karhutla memiliki dampak jangka pendek dan jangka panjang terhadap kehidupan orangutan. Dalam jangka pendek, asap dapat mengganggu sistem pernapasan dan kesehatan satwa. Sementara dalam jangka panjang, kebakaran dapat merusak vegetasi yang menjadi sumber makanan sekaligus mengurangi ruang hidup orangutan.

Ancaman tersebut menjadi semakin serius karena orangutan Kalimantan merupakan satwa yang dilindungi dan menghadapi tekanan habitat akibat perubahan penggunaan lahan, fragmentasi hutan, perburuan serta berbagai bentuk gangguan lingkungan.

Karena itu, penanganan karhutla tidak dapat hanya berorientasi pada pemadaman api. Perlindungan terhadap satwa liar dan habitatnya juga harus menjadi bagian integral dari penanganan bencana ekologis tersebut.

Menjaga Hutan Berarti Menjaga Kehidupan

Kondisi 21 orangutan yang mengalami gejala ISPA di Nyaru Menteng menjadi pesan penting bahwa dampak kerusakan lingkungan dapat menjangkau kehidupan manusia sekaligus satwa liar.

Ketika api membakar hutan, dampaknya tidak berhenti pada pohon dan lahan. Asap bergerak melintasi wilayah, mengganggu kualitas udara, mengancam kesehatan manusia, mengganggu satwa dan berpotensi merusak rantai kehidupan dalam ekosistem.

Penguatan satgas penyelamatan satwa oleh pemerintah, bersama BKSDA dan organisasi konservasi, diharapkan mampu mempercepat respons terhadap satwa yang terdampak karhutla.

Namun, upaya penyelamatan satwa tidak akan cukup apabila kerusakan habitat terus berulang. Pencegahan kebakaran, perlindungan kawasan hutan, penegakan hukum terhadap pembakaran ilegal, serta pemulihan ekosistem harus berjalan secara bersamaan.

Bagi orangutan yang kini masih berjuang menghadapi kepungan asap, keselamatan mereka bergantung pada kemampuan manusia menjaga hutan tetap menjadi rumah yang aman.

ASBI Media Center

Tags: 21 orangutanasap karhutlaasap kebakaran hutanASBI Newsberita Kalimantanberita konservasiberita lingkunganBerita Nasionalberita orangutan hari iniberita orangutan terbaruberita viral 7 September 2026Berita Viral Hari IniBKSDA Kalimantan TengahBorneo Orangutan Survival FoundationBOSFdampak karhutlahabitat orangutanJabar TodayJurnal Nusantarakabut asap KalimantanKalimantan BaratKalimantan Tengahkarhutla Kalimantankarhutla Kaltengkebakaran hutan dan lahanKementerian Kehutanankesehatan satwaKetapangkonservasi orangutanMedia NusantaraNyaru Mentengorangutanorangutan ISPAorangutan Kalimantanorangutan sakitorangutan SempurnaPalangka Rayapenyelamatan orangutanSatgas Penyelamatan Satwa Liarsatwa dilindungisatwa liarSempurna orangutanYIARI

Related Posts

Ratusan Siswa di Batukliang Dilarikan ke Puskesmas Usai Santap MBG, 352 Orang Terdampak
Nasional

Ratusan Siswa di Batukliang Dilarikan ke Puskesmas Usai Santap MBG, 352 Orang Terdampak

September 12, 2026
Lima Wartawan Hilang di Selat Sunda, Ketua AMKI Kabupaten Bandung: Semoga Segera Ditemukan dan Kembali ke Keluarga
Nasional

Lima Wartawan Hilang di Selat Sunda, Ketua AMKI Kabupaten Bandung: Semoga Segera Ditemukan dan Kembali ke Keluarga

September 12, 2026
Empat Gunung Api Erupsi dalam Waktu Berdekatan, Indonesia Kembali Jadi Sorotan Vulkanik Dunia
Nasional

Empat Gunung Api Erupsi dalam Waktu Berdekatan, Indonesia Kembali Jadi Sorotan Vulkanik Dunia

September 7, 2026
Gunung Anak Krakatau Kembali Erupsi, Keselamatan Penerbangan Jadi Prioritas Pemerintah
Nasional

Gunung Anak Krakatau Kembali Erupsi, Keselamatan Penerbangan Jadi Prioritas Pemerintah

September 7, 2026
Muktamar NU Memanas, Mekanisme Pemilihan Ketum PBNU Berubah: 401 Suara Pilih AHWA, Dinamika Massa Mengiringi Sidang
Nasional

Muktamar NU Memanas, Mekanisme Pemilihan Ketum PBNU Berubah: 401 Suara Pilih AHWA, Dinamika Massa Mengiringi Sidang

August 30, 2026
Founder ASBI Grup Silaturahmi ke Kawargian Abah Alam Syah, Bahas Program Pendidikan, Kebudayaan, Hukum hingga Keagamaan
Nasional

Founder ASBI Grup Silaturahmi ke Kawargian Abah Alam Syah, Bahas Program Pendidikan, Kebudayaan, Hukum hingga Keagamaan

August 28, 2026
Next Post
Empat Gunung Api Erupsi dalam Waktu Berdekatan, Indonesia Kembali Jadi Sorotan Vulkanik Dunia

Empat Gunung Api Erupsi dalam Waktu Berdekatan, Indonesia Kembali Jadi Sorotan Vulkanik Dunia

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

POPULAR NEWS

PANCEG RUPA : PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT MELALUI HAJAT LEMBUR, WUJUD PELESTARIAN SENI BUDAYA DAN RASA SYUKUR KEPADA ALLAH SWT

PANCEG RUPA : PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT MELALUI HAJAT LEMBUR, WUJUD PELESTARIAN SENI BUDAYA DAN RASA SYUKUR KEPADA ALLAH SWT

August 2, 2026
Partai Berkarya Kabupaten Bandung Perkenalkan Kepengurusan Baru, KPU dan Kesbangpol Beri Sambutan Hangat

Partai Berkarya Kabupaten Bandung Perkenalkan Kepengurusan Baru, KPU dan Kesbangpol Beri Sambutan Hangat

June 10, 2026

SBR 3, Pusat Oleh-Oleh Garut Terbesar dan Terlengkap dengan Dominasi Produk UMKM Lokal

January 22, 2026
KADIN Kabupaten Bandung dan Kota Depok Kembali Buka Fasilitas Sertifikasi SBU Pengadaan Barang dan Jasa Nonkonstruksi

KADIN Kabupaten Bandung dan Kota Depok Kembali Buka Fasilitas Sertifikasi SBU Pengadaan Barang dan Jasa Nonkonstruksi

September 10, 2026
Pengurus KADIN Kabupaten Bandung Hadiri Festival AHU, Dorong Penguatan Legalitas dan Kepastian Hukum Dunia Usaha

Pengurus KADIN Kabupaten Bandung Hadiri Festival AHU, Dorong Penguatan Legalitas dan Kepastian Hukum Dunia Usaha

September 1, 2026

EDITOR'S PICK

Imlek 2577 Kongzili di Semarang, Harmoni Pecinan Menyala di Kota Atlas

February 15, 2026

Harga Cabai Rawit Melonjak Drastis, Tembus Rp110 Ribu per Kilogram Saat Ramadan

March 20, 2026
Prabowo Tiba di New Delhi, Bawa Kepentingan Indonesia dalam KTT BRICS 2026

Prabowo Tiba di New Delhi, Bawa Kepentingan Indonesia dalam KTT BRICS 2026

September 12, 2026
MENGAPA KASUS KARINA RANAU MENJADI VIRAL? INI FAKTOR YANG MEMICU KEMARAHAN PUBLIK

MENGAPA KASUS KARINA RANAU MENJADI VIRAL? INI FAKTOR YANG MEMICU KEMARAHAN PUBLIK

June 17, 2026
Jurnal Nusantara

© 2026 Jurnal Nusantara News

Navigate Site

  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber

Follow Us

No Result
View All Result
  • Nasional
  • Mancanegara
  • Daerah
  • Lifestyle
  • Ekonomi
  • Hukrim
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Peristiwa
  • Politik

© 2026 Jurnal Nusantara News