Jurnal Nusantara, Jawa Barat – Kenaikan harga cabai rawit kembali menjadi perhatian publik setelah dilaporkan menembus angka Rp110 ribu per kilogram di sejumlah daerah. Lonjakan harga ini terjadi bertepatan dengan momen Ramadan, saat kebutuhan bahan pokok cenderung meningkat.
Berdasarkan pantauan dari berbagai sumber media, kenaikan harga cabai rawit sudah terjadi dalam beberapa pekan terakhir. Di sejumlah pasar tradisional, pedagang mengaku pasokan cabai mengalami penurunan, sementara permintaan terus meningkat signifikan menjelang dan selama Ramadan.
“Stok dari petani berkurang, sementara permintaan tinggi. Ini yang bikin harga naik,” ujar salah satu pedagang di pasar tradisional.
Fenomena ini pun memicu reaksi luas dari warganet di media sosial. Banyak yang membandingkan harga cabai rawit dengan bahan pangan lain, bahkan menyebut harganya kini “lebih mahal dari daging”. Ungkapan tersebut menjadi viral dan memicu berbagai komentar bernada kelakar hingga keluhan dari masyarakat.
Sejumlah faktor diduga menjadi penyebab kenaikan harga, di antaranya cuaca ekstrem yang memengaruhi hasil panen, distribusi yang terhambat, serta meningkatnya konsumsi rumah tangga selama Ramadan. Selain itu, biaya logistik yang naik juga turut mendorong harga jual di tingkat pasar.
Pemerintah melalui dinas terkait dikabarkan tengah berupaya menstabilkan harga dengan memastikan kelancaran distribusi serta mengoptimalkan pasokan dari daerah sentra produksi. Operasi pasar juga menjadi salah satu opsi yang dipertimbangkan untuk menekan lonjakan harga.
Masyarakat diimbau untuk bijak dalam berbelanja dan menyesuaikan konsumsi dengan kebutuhan. Sementara itu, para pedagang berharap kondisi pasokan segera membaik agar harga cabai rawit dapat kembali stabil dalam waktu dekat.












