Jurnal Nusantara, New Delhi — Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengungkap perkembangan terbaru terkait wabah Virus Nipah (NiV) di India setelah ditemukannya dua kasus terkonfirmasi di negara bagian West Bengal. Meski jumlah kasus masih terbatas, kejadian ini menjadi perhatian global mengingat tingginya tingkat fatalitas penyakit tersebut.
WHO dalam pernyataan resminya menyebutkan bahwa dua kasus infeksi Virus Nipah terdeteksi di distrik North 24 Parganas, wilayah yang berada di sekitar Kota Kolkata. Kedua pasien diketahui merupakan tenaga kesehatan yang bekerja di sebuah rumah sakit swasta dan diduga terpapar saat menjalankan tugas medis.
Berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium yang dilakukan oleh National Institute of Virology (NIV), Pune, kedua pasien dinyatakan positif Virus Nipah. Salah satu pasien dilaporkan masih menjalani perawatan intensif, sementara pasien lainnya menunjukkan kondisi yang mulai membaik.

Otoritas kesehatan India, bekerja sama dengan WHO, telah melakukan pelacakan kontak secara menyeluruh terhadap orang-orang yang memiliki riwayat kontak erat dengan kedua pasien tersebut. Lebih dari 190 orang telah diidentifikasi dan menjalani pemeriksaan kesehatan.
Hingga saat ini, WHO menyatakan tidak ditemukan kasus tambahan, serta seluruh kontak erat menunjukkan hasil tes negatif dan tidak mengalami gejala yang mengarah pada infeksi Virus Nipah.
WHO menilai risiko penyebaran Virus Nipah pada tingkat subnasional berada pada kategori sedang, mengingat potensi penularan lokal dan karakteristik virus yang berbahaya. Namun demikian, WHO menegaskan bahwa risiko pada tingkat nasional, regional, dan global masih tergolong rendah.
Sejalan dengan penilaian tersebut, WHO tidak merekomendasikan pembatasan perjalanan atau perdagangan internasional terkait wabah ini. WHO juga menyebutkan bahwa situasi masih dapat dikendalikan dengan pengawasan ketat dan respons kesehatan yang cepat.
Meski dinilai berisiko rendah secara global, sejumlah negara di kawasan Asia meningkatkan langkah kewaspadaan, termasuk penguatan pengawasan kesehatan di pintu masuk negara seperti bandara dan pelabuhan, terutama bagi pelaku perjalanan dari India.
Langkah ini dilakukan sebagai upaya pencegahan dini, mengingat Virus Nipah termasuk penyakit zoonotik yang dapat menular dari hewan ke manusia dan dalam kondisi tertentu dapat menyebar antarmanusia melalui kontak dekat.
Virus Nipah merupakan penyakit menular yang pertama kali teridentifikasi pada 1999. Virus ini ditularkan terutama melalui kelelawar buah sebagai reservoir alami, serta dapat menyebar melalui makanan yang terkontaminasi atau kontak langsung dengan penderita.
Gejala awal meliputi demam, sakit kepala, nyeri otot, dan gangguan pernapasan, yang dalam kasus berat dapat berkembang menjadi radang otak (ensefalitis). Hingga kini, belum tersedia vaksin maupun pengobatan khusus untuk Virus Nipah, sehingga penanganan medis bersifat suportif.
WHO mengimbau masyarakat internasional untuk tetap waspada namun tidak panik, serta mengikuti perkembangan informasi dari sumber resmi. Otoritas kesehatan India terus memperkuat sistem surveilans dan kesiapsiagaan guna memastikan wabah ini tetap terkendali dan tidak meluas.








