Jurnal Nusantara, Teheran/Wina – Badan Energi Atom Internasional (IAEA) tengah mengupayakan langkah diplomatik baru untuk memediasi kesepakatan terkait program nuklir Iran. Upaya ini ditujukan untuk mempertemukan kembali Iran dan Amerika Serikat dalam sebuah perjanjian nuklir yang baru guna meredakan ketegangan yang telah berlangsung selama beberapa tahun terakhir.
Direktur Jenderal International Atomic Energy Agency (IAEA), Rafael Grossi, menyatakan bahwa badan pengawas nuklir Perserikatan Bangsa-Bangsa tersebut sedang berupaya memfasilitasi dimulainya kembali perundingan antara Amerika Serikat dan Iran. Menurut Grossi, diplomasi menjadi jalan penting untuk mencegah eskalasi konflik terkait program nuklir Teheran.
Grossi menambahkan bahwa IAEA berharap negosiasi dapat menghasilkan solusi jangka panjang terhadap program nuklir Iran. Ia juga menilai dialog dan kerja sama internasional diperlukan agar situasi tidak semakin memburuk.
Upaya diplomatik tersebut muncul di tengah meningkatnya ketegangan antara Washington dan Teheran sejak Amerika Serikat menarik diri dari kesepakatan nuklir tahun 2015 atau Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA) pada 2018. Setelah penarikan itu, Amerika Serikat kembali memberlakukan sanksi ekonomi terhadap Iran, sementara Iran secara bertahap meningkatkan kegiatan pengayaan uranium.
Dalam beberapa bulan terakhir, kedua negara juga kembali membuka jalur dialog tidak langsung melalui mediator internasional. Sejumlah perundingan bahkan telah digelar di Jenewa, Swiss, dengan dukungan pihak ketiga guna mencari jalan keluar dari kebuntuan diplomatik.
IAEA menilai peran lembaga tersebut tetap penting sebagai pengawas teknis yang memastikan transparansi serta kepatuhan terhadap perjanjian non-proliferasi nuklir. Dengan adanya mediasi baru ini, komunitas internasional berharap ketegangan mengenai program nuklir Iran dapat diselesaikan melalui jalur diplomasi, bukan konfrontasi militer.











