JURNAL NUSANTARA, JAKARTA — Sebuah video yang memperlihatkan seorang pria mengenakan pakaian yang menyerupai seragam TNI Angkatan Laut (TNI AL) dalam sebuah acara di Thailand menjadi perhatian publik dan ramai beredar di media sosial.
Dalam rekaman yang beredar, pria tersebut terlihat mengenakan pakaian berwarna biru dengan tali kur di bagian pundak dan tampak mendampingi seorang pria lain menuju sebuah panggung. Sejumlah unggahan di media sosial mengaitkan kegiatan tersebut dengan acara Miss Equality World 2026 di Bangkok, Thailand.
Namun, hingga Senin, 7 September 2026, identitas pria yang terlihat dalam video tersebut serta status penugasannya belum seluruhnya dikonfirmasi secara resmi oleh Mabes TNI. Karena itu, berbagai narasi yang berkembang di media sosial perlu disikapi secara hati-hati dan tidak langsung dianggap sebagai fakta.
Mabes TNI Telusuri Identitas dan Status Penugasan
Kepala Pusat Penerangan TNI Mayjen TNI Muhammad Nas menyatakan bahwa pihaknya sedang melakukan penelusuran terhadap sosok yang terlihat dalam video tersebut.
Mabes TNI juga menegaskan bahwa setiap penugasan personel TNI memiliki dasar, mekanisme, serta ketentuan yang harus dipatuhi. Apabila dalam proses pemeriksaan ditemukan adanya tindakan yang berada di luar ketentuan penugasan, maka persoalan tersebut akan dievaluasi.
“Pada prinsipnya, setiap penugasan personel TNI memiliki dasar, mekanisme, serta ketentuan yang berlaku. Apabila ada hal di luar itu, tentu akan dievaluasi,” demikian penjelasan Kapuspen TNI sebagaimana diberitakan sejumlah media.
Pernyataan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa institusi TNI belum mengambil kesimpulan mengenai dugaan pelanggaran sebelum proses pemeriksaan dan pendalaman selesai.
Video Viral di Media Sosial
Perhatian publik bermula dari beredarnya sejumlah foto dan video yang memperlihatkan seorang pria dengan atribut menyerupai seragam TNI AL berada dalam sebuah acara di Thailand.
Dalam salah satu rekaman, pria tersebut tampak membantu seorang pria lain untuk menuju panggung. Sejumlah akun media sosial kemudian menyebut bahwa sosok yang didampingi merupakan anggota DPD RI asal Bali, I Gusti Ngurah Arya Wedakarna atau Arya Wedakarna.
Meski demikian, informasi mengenai identitas orang-orang yang terlihat dalam video perlu dibedakan antara fakta yang telah dikonfirmasi dan narasi yang muncul dari pengguna media sosial.
Pihak Mabes TNI sendiri masih melakukan penelusuran terhadap identitas serta status penugasan personel yang dimaksud.
Arya Wedakarna Berikan Penjelasan
Sebelumnya, Arya Wedakarna telah memberikan penjelasan mengenai kehadirannya di acara Miss Equality World 2026 di Bangkok.
Arya menyatakan bahwa kehadirannya dalam acara tersebut bukan dalam kapasitas sebagai anggota DPD RI, melainkan sebagai pribadi dan tokoh yang berkaitan dengan kegiatan budaya serta pariwisata.
Menurut penjelasannya, ia menghadiri sejumlah rangkaian kegiatan di Thailand setelah menerima undangan dari sebuah organisasi yang disebutnya memiliki kegiatan sosial dan amal. Ia juga menyebut bahwa dalam acara tersebut dirinya menerima penghargaan yang berkaitan dengan pariwisata Bali.
Arya juga menjelaskan bahwa prajurit TNI AL yang terlihat bersamanya merupakan ajudan yang telah mendampinginya dalam menjalankan tugas pengamanan.
Ia menyebut kehadiran ajudan tersebut tidak berkaitan dengan acara kontes yang berlangsung di Thailand, melainkan bagian dari tugas pendampingan dan pengamanan dirinya.
Prajurit TNI AL Diperiksa Lanal Denpasar
Persoalan tersebut kemudian berkembang ke ranah internal TNI AL.
Prajurit TNI AL yang disebut sebagai ajudan Arya Wedakarna telah menjadi perhatian Lanal Denpasar. Pihak Lanal Denpasar melakukan pendalaman untuk mengetahui konteks penugasan serta alasan kehadiran prajurit tersebut dalam kegiatan di Thailand.
Pemeriksaan tersebut dilakukan sebagai bagian dari proses klarifikasi dan pendalaman sebelum menentukan apakah terdapat pelanggaran terhadap ketentuan yang berlaku.
Langkah tersebut penting untuk memastikan bahwa setiap personel TNI menjalankan tugas sesuai prosedur, termasuk ketika mendampingi pejabat atau tokoh tertentu dalam kegiatan di luar negeri.
Badan Kehormatan DPD Juga Soroti Kehadiran Arya
Selain menjadi perhatian TNI, kehadiran Arya Wedakarna dalam acara tersebut juga mendapat perhatian Badan Kehormatan (BK) DPD RI.
BK DPD RI menyatakan akan memanggil Arya untuk meminta klarifikasi mengenai kehadirannya di acara Miss Equality World 2026. Pemeriksaan tersebut juga akan melihat kapasitas Arya ketika menghadiri kegiatan tersebut, termasuk apakah kehadirannya berkaitan dengan tugas sebagai anggota DPD atau dilakukan dalam kapasitas pribadi.
Ketua BK DPD RI Hasby Yusuf menegaskan bahwa status sebagai anggota DPD tetap melekat pada seseorang ketika berada di ruang publik. Karena itu, setiap aktivitas publik tetap perlu mempertimbangkan kepatutan, kehormatan jabatan, serta dampaknya terhadap citra lembaga.
Namun, BK DPD juga menekankan bahwa kesimpulan tidak boleh hanya didasarkan pada foto, video, atau pemberitaan. Fakta mengenai tujuan kehadiran, kapasitas, undangan, penyelenggara kegiatan, hingga keterlibatan dalam acara perlu diperiksa secara utuh.
TNI Tidak Langsung Menyimpulkan Pelanggaran
Viralnya video di media sosial kembali menunjukkan pentingnya kehati-hatian dalam menyikapi informasi yang belum sepenuhnya terverifikasi.
Mabes TNI sejauh ini tidak langsung menyatakan bahwa prajurit tersebut telah melakukan pelanggaran. Institusi masih menelusuri identitas dan status penugasannya serta mempelajari konteks kehadirannya di Thailand.
Jika pemeriksaan nantinya menemukan adanya tindakan yang tidak sesuai dengan mekanisme penugasan, TNI menyatakan akan melakukan evaluasi sesuai ketentuan yang berlaku.
Sikap tersebut menjadi penting untuk memastikan proses pemeriksaan berjalan berdasarkan fakta, bukan semata-mata berdasarkan tekanan atau narasi yang berkembang di media sosial.
Menunggu Hasil Klarifikasi
Kasus ini kini berada dalam tahap pendalaman oleh pihak terkait. Di satu sisi, publik mempertanyakan alasan seorang prajurit TNI AL terlihat mendampingi seorang anggota DPD dalam acara di luar negeri. Di sisi lain, institusi TNI perlu memastikan terlebih dahulu apakah kehadiran tersebut merupakan bagian dari tugas resmi atau memiliki dasar penugasan tertentu.
Sementara itu, Arya Wedakarna telah memberikan penjelasan mengenai kapasitas kehadirannya dan alasan dirinya didampingi prajurit TNI AL.
Dengan demikian, masyarakat diharapkan tidak terburu-buru menarik kesimpulan sebelum proses klarifikasi dan pemeriksaan dari TNI maupun lembaga terkait selesai.
Perkembangan kasus ini masih akan menjadi perhatian publik, terutama menyangkut batas tugas personel militer, pendampingan pejabat negara, serta standar kepatutan bagi pejabat publik ketika menjalankan aktivitas di dalam maupun luar negeri.
ASBI Media Center













