Jurnal Nusantara, Teheran / Wilayah Timur Tengah – Konflik berskala besar yang melibatkan Iran, United States dan Israel kini memasuki hari ke‑12 dengan intensitas serangan meningkat drastis. Berita ini menjadi salah satu topik paling viral dan ramai dibicarakan di media internasional hari ini, 11 Maret 2026.
Pejabat militer AS menyatakan operasi udara bersama dengan Israel meluncurkan gelombang serangan paling berat terhadap target di Iran sejak perang dimulai, termasuk fasilitas militer, pusat komando, dan infrastruktur strategis di beberapa kota besar seperti Teheran. Serangan ini disebut sebagai eskalasi terbesar dalam beberapa minggu terakhir.
Iran sendiri merespons dengan serangan rudal dan drone ke arah pangkalan militer AS di wilayah Teluk dan target di Israel. Sirene udara berbunyi di beberapa wilayah karena sistem pertahanan mencoba mencegat ratusan proyektil yang diluncurkan oleh pihak Iran.
Menurut pernyataan Iran di PBB, perang telah menewaskan lebih dari 1.300 warga sipil, merusak hampir 10.000 situs sipil termasuk rumah tinggal, fasilitas publik, pusat komersial, serta fasilitas pendidikan dan kesehatan sejak serangan pertama bermula pada 28 Februari 2026.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) turut melaporkan bahwa sejumlah fasilitas kesehatan dan rumah sakit di Iran telah menjadi sasaran serangan, mengakibatkan kematian tenaga kesehatan dan mempengaruhi pelayanan medis bagi komunitas yang membutuhkan.
Ketegangan Mengglobal Serangan di Selat Hormuz dan Negara Teluk
Ketegangan tak hanya terjadi di wilayah Iran dan Israel. Serangan Iran juga telah menarget kapal komersial di Selat Hormuz, jalur penting yang memengaruhi sekitar 20 % aliran minyak dunia, serta fasilitas di negara‑negara Teluk lainnya.
Beberapa negara Teluk seperti Bahrain dan United Arab Emirates mengalami dampak akibat intercept rudal dan drone, beberapa di antaranya mengakibatkan korban luka dan kerusakan properti.
Iran telah menolak ajakan gencatan senjata dan menyatakan tidak akan menyerah dalam konflik ini. Tokoh politik Iran bahkan menyerukan respons yang lebih keras terhadap serangan U.S.–Israel, sementara pihak asing terus mendesak pengakhiran permusuhan.
Ketua parlemen Iran menegaskan bahwa negara tersebut akan terus memperjuangkan apa yang disebutnya “pembelaan terhadap kedaulatan”, dan bahwa responsnya akan bersifat “tegas” terhadap pihak yang menyerang wilayahnya.
Perang ini juga memengaruhi harga energi dan pasar global karena gangguan di jalur transportasi minyak, termasuk kekhawatiran akan penutupan jalur utama ekspor minyak mentah. Beberapa lembaga ekonomi internasional mempertimbangkan langkah untuk menstabilkan suplai energi akibat lonjakan ketidakpastian geopolitik.








