Jurnal Nusantara, Denmark – Sebuah video yang diklaim sebagai pernyataan Parlemen Denmark terkait permintaan mantan Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk memperoleh Anugerah Nobel Perdamaian viral di berbagai platform media sosial. Video tersebut disebarkan dengan narasi bahwa parlemen Denmark memberikan tanggapan atau sikap resmi terhadap isu Nobel yang dikaitkan dengan Donald Trump.
Namun, klaim tersebut dipastikan tidak benar. Sejumlah pemeriksa fakta menyatakan bahwa video yang beredar merupakan rekaman lama yang tidak memiliki kaitan sama sekali dengan isu Donald Trump maupun Anugerah Nobel Perdamaian.
Berdasarkan penelusuran FactCrescendo, video tersebut adalah rekaman sidang Parlemen Denmark yang terjadi pada periode sebelumnya dan membahas agenda yang sama sekali berbeda. Tidak ada pernyataan, pembahasan, maupun sikap resmi Parlemen Denmark yang menyinggung Donald Trump atau isu Nobel sebagaimana yang diklaim dalam unggahan viral.
FactCrescendo menjelaskan bahwa video tersebut telah mengalami kesalahan konteks (false context). Potongan video lama disebarkan ulang dengan narasi baru sehingga menimbulkan kesan seolah-olah peristiwa tersebut merupakan kejadian terkini dan berkaitan langsung dengan isu politik internasional yang sedang ramai diperbincangkan.
Hal senada juga disampaikan oleh media internasional. Seperti dilaporkan Times of India, video Parlemen Denmark tersebut tidak berhubungan dengan klaim permintaan Nobel oleh Donald Trump. Media tersebut menyoroti bagaimana konten lama kerap digunakan kembali dengan narasi menyesatkan untuk memancing perhatian publik dan meningkatkan interaksi di media sosial.
Sementara itu, sejumlah media global menilai viralnya video tersebut tidak lepas dari popularitas dan kontroversi yang kerap menyertai sosok Donald Trump. Isu seputar Nobel Perdamaian yang pernah dikaitkan dengan Trump sebelumnya juga kerap menjadi bahan spekulasi dan disinformasi di ruang digital.
Di media sosial, video tersebut menuai beragam reaksi. Sebagian warganet mempercayai narasi yang beredar dan menganggap Parlemen Denmark benar-benar menyampaikan sikap terhadap isu Nobel. Namun, tidak sedikit pula yang mempertanyakan keaslian dan konteks video tersebut, hingga akhirnya memicu klarifikasi dari berbagai lembaga pemeriksa fakta.
Pakar literasi digital yang dikutip sejumlah media menilai kasus ini sebagai contoh klasik penyebaran misinformasi berbasis visual. Video lama yang dipotong dan dilepas dari konteks aslinya dinilai sangat efektif menyesatkan publik, terutama ketika dikaitkan dengan tokoh internasional yang kontroversial.
Para pemeriksa fakta pun mengimbau masyarakat untuk lebih berhati-hati dalam menyikapi konten visual yang beredar di media sosial. Publik diminta untuk memeriksa sumber asli, waktu perekaman, serta konteks peristiwa sebelum mempercayai atau membagikan informasi tersebut.
Dengan adanya klarifikasi ini, media pemeriksa fakta menegaskan bahwa hingga saat ini tidak ada pernyataan resmi Parlemen Denmark yang berkaitan dengan permintaan Donald Trump untuk Anugerah Nobel Perdamaian. Video yang beredar dipastikan merupakan konten lama yang disebarkan kembali dengan narasi keliru.
Kasus ini kembali menjadi pengingat pentingnya literasi digital di tengah derasnya arus informasi, sekaligus menunjukkan peran penting media dan pemeriksa fakta dalam menangkal hoaks serta disinformasi yang berpotensi menyesatkan publik.











