Padepokan Panawung Jaya in Bandung Regency is an arts community with significant potential for preserving and developing Sundanese traditional arts—specifically kiliningan, jaipong bajidoran, angklung, tarawangsa, and pencak silat. While the group possesses the necessary resources, such as multi-tuning (multilaras) gamelan sets and various traditional instruments, their training and performance processes lack a structured approach. Key challenges include reading musical notation, mastering kiliningan and jaipongan instrumental techniques, developing kendang (drum) patterns, mastering kepesindenan (female vocal) techniques, achieving ensemble cohesion, and effectively packaging performances. This community service initiative aims to enhance the competence of pengrawit (musicians) and juru kawih (vocalists) through training in Kiliningan–Jaipongan gamelan and kepesindenan vocals. The program employs a practical approach comprising socialization, training, technology application, mentoring, evaluation, and sustainability planning. Instruction involves structured demonstration and imitation, progressive practice, repetition, technical correction, and ensemble performance. The curriculum covers notation reading, basic kiliningan and jaipongan playing techniques, kendang patterns, gending (composition) structure, tempo, dynamics, breathing techniques, articulation, intonation, tuning (laras), melodic ornamentation (senggol), lyrical interpretation, and vocal-gamelan synchronization. Results indicate improved participant understanding of notation and musical material, enhanced practical skills, and better ensemble collaboration. The initiative also established more focused training routines and strengthened the partnership between the arts university and the arts community, contributing to the long-term sustainability of traditional arts.
Keywords: Sundanese gamelan, kiliningan, jaipongan, kepesindenan, arts education
1. Pendahuluan
Seni tradisi merupakan bagian penting dari kehidupan kebudayaan masyarakat karena tidak hanya berfungsi sebagai ekspresi artistik, tetapi juga menjadi ruang pewarisan pengetahuan, nilai, identitas, dan pengalaman sosial antargenerasi. Keberadaan seni tradisi berlangsung melalui hubungan yang dinamis antara pelaku, komunitas, ruang budaya, serta perubahan lingkungan sosial. Oleh karena itu, keberlanjutan seni tradisi tidak cukup dipahami sebagai upaya mempertahankan bentuk kesenian sebagaimana adanya, tetapi juga sebagai proses memperkuat
kemampuan masyarakat pendukungnya dalam menjalankan, mempelajari, mengembangkan, dan mentransmisikan pengetahuan kesenian.
Perspektif tersebut menjadi penting karena perubahan sosial dan perkembangan teknologi telah mengubah cara masyarakat berinteraksi dengan seni tradisi. Di satu sisi, perubahan tersebut dapat menimbulkan tantangan berupa berkurangnya ruang praktik dan perubahan minat generasi muda. Di sisi lain, perkembangan teknologi membuka kemungkinan baru untuk mendokumentasikan, mempelajari, dan menyebarluaskan pengetahuan seni. Dengan demikian, pelestarian seni tradisi perlu ditempatkan dalam kerangka yang memungkinkan hubungan antara tradisi, pembelajaran, kreativitas, dan teknologi berkembang secara seimbang.
Kajian mengenai pelestarian seni tradisi memperlihatkan bahwa keberlanjutan kesenian berkaitan erat dengan transmisi pengetahuan, keterlibatan lintas generasi, inovasi, dan kemampuan komunitas dalam merespons perubahan. Adiyani et al. (2024), misalnya, menunjukkan pentingnya inklusivitas lintas generasi dalam keberlanjutan seni pertunjukan tradisional. Mujiburrahman et al. (2024) menempatkan pelestarian seni tradisi dalam hubungan dengan kemampuan komunitas menghadapi perubahan zaman. Dalam konteks tersebut, penguatan kompetensi pelaku menjadi salah satu bagian penting dari strategi keberlanjutan.
Karawitan Sunda merupakan salah satu bentuk seni tradisi yang memiliki sistem musikal kompleks. Kompleksitas tersebut tidak hanya berkaitan dengan keterampilan memainkan waditra, tetapi juga melibatkan pemahaman laras, struktur gending, pola tabuhan, fungsi instrumen, hubungan antarinstrumen, vokal, tempo, dinamika, dan konteks pertunjukan. Seorang pengrawit tidak hanya dituntut mampu memainkan satu pola tabuhan, tetapi juga perlu memahami hubungan musikal antara permainan instrumen yang dimainkannya dengan keseluruhan sajian.
Dalam praktik tradisi, proses penguasaan keterampilan tersebut umumnya berlangsung melalui pengalaman langsung. Peserta belajar dengan mendengar, melihat, menirukan, mengulang, dan mengikuti praktik bersama seniman yang lebih berpengalaman. Pola pembelajaran semacam ini memperlihatkan bahwa pengetahuan karawitan tidak sepenuhnya bersifat tekstual. Sebagian pengetahuan melekat pada pengalaman tubuh, kepekaan pendengaran, kebiasaan bermain, serta kemampuan merespons perubahan musikal secara spontan.
Namun, pengalaman praktik tersebut dapat diperkuat melalui sistem pembelajaran yang lebih terstruktur. Notasi, misalnya, dapat digunakan sebagai alat bantu untuk mendokumentasikan
pola musikal dan memudahkan komunikasi antarpelaku. Ananta et al. (2024) menunjukkan bahwa notasi dapat ditempatkan dalam tahapan persiapan, penyampaian materi, latihan, dan penampilan gamelan. Dalam pembelajaran titilaras Sunda, Supriatna et al. (2025) juga menunjukkan bahwa pemahaman terhadap hubungan simbol notasi dan praktik musikal memerlukan strategi pembelajaran yang sistematis.
Dengan demikian, penggunaan notasi dalam pembelajaran karawitan tradisi tidak harus dipertentangkan dengan metode belajar melalui pendengaran dan imitasi. Keduanya dapat dipadukan. Notasi berfungsi sebagai rujukan tertulis, sedangkan demonstrasi dan imitasi tetap menjadi bagian penting dalam pembentukan kepekaan musikal. Model pembelajaran semacam ini memungkinkan peserta memperoleh pengalaman musikal sekaligus memiliki dokumentasi materi yang dapat dipelajari kembali.
Kebutuhan tersebut juga relevan dalam pembelajaran gamelan Kiliningan dan Jaipongan. Kiliningan merupakan salah satu bentuk pertunjukan Sunda yang mempertemukan permainan gamelan dan vokal kepesindenan. Sementara itu, Jaipongan berkembang sebagai bentuk seni pertunjukan dengan karakter musikal yang kuat, terutama dalam hubungan antara kendang, gamelan, vokal, dan gerak. Kendang memiliki kedudukan penting dalam pembentukan karakter musikal Jaipongan karena berkaitan dengan pengaturan tempo, aksentuasi, perubahan bagian, dan komunikasi antarpemain (Wiresna et al., 2020).
Hubungan antara gamelan dan vokal juga menuntut kemampuan mendengar dan berkomunikasi secara musikal. Juru kawih tidak cukup hanya menguasai melodi lagu, tetapi harus mampu menyesuaikan vokal dengan laras, struktur gending, tempo, dan karakter iringan. Sebaliknya, pengrawit harus mampu memberikan ruang musikal yang sesuai bagi vokal. Dengan demikian, pengembangan kompetensi pengrawit dan juru kawih perlu dilakukan secara terpadu.
Perkembangan teknologi memberikan kemungkinan tambahan bagi proses tersebut. Media audio, video, notasi digital, dan perangkat pengolah suara dapat digunakan untuk mendokumentasikan materi latihan dan memperluas kesempatan belajar. Maulana et al. (2025) menunjukkan potensi aplikasi digital Gamelan Degung Sunda sebagai media untuk mendukung keterampilan bermusik. Saputra et al. (2024) juga memperlihatkan bahwa teknologi Digital Audio Workstation dapat dipadukan dengan pembelajaran musik tradisional. Teknologi dalam konteks ini bukan pengganti pengalaman musikal langsung, melainkan sarana pendukung dokumentasi dan
pengulangan materi.
Kondisitersebutditemukan di Padepokan Panawung Jaya Guyur Putra Kabupaten Bandung. Padepokan berlokasi di Jalan Cangkuang–Cikalong, Kp. Wangun RT 004 RW 008, Desa Jatisari, Kecamatan Cangkuang, Kabupaten Bandung. Padepokan menjadi ruang berkumpul, berlatih, dan mengembangkanberbagaiaktivitassenitradisimasyarakat.
Aktivitas kesenian yang berkembang di padepokan meliputi kiliningan, jaipong bajidoran, angklung, tarawangsa, pencak silat, serta berbagai kegiatan seni tradisi lainnya. Padepokan juga memiliki sejumlah sarana berupa gamelan multilaras, tarawangsa, kacapi, rebab, tarompet, angklung buhun, angling, dogdog, dan perangkat tata suara. Ketersediaan tersebut merupakan modal penting dalam pengembangan kapasitas seni komunitas.

Akan tetapi, keberadaan sarana tidak secara otomatis menghasilkan kualitas pertunjukan. Pemanfaatan instrumen memerlukan kemampuan teknis, pola latihan, koordinasi, pemahaman struktur musikal, dan kemampuan mengorganisasi penyajian. Berdasarkan observasi awal, kegiatan seni di padepokan masih banyak berlangsung dalam bentuk latihan dan pertemuan seniman berdasarkan kebutuhan. Pertunjukan dilakukan secara insidental dan belum seluruhnya didukung konsep artistik serta struktur penyajian yang dirancang secara sistematis
Wawancara dengan Ade Cucu pada 15 November 2025 menunjukkan bahwa padepokan memiliki fungsi sebagai ruang berkumpulnya seniman Kabupaten Bandung, sementara kegiatan kesenian masih berlangsung berdasarkan kesempatan dan kebutuhan komunitas. Selanjutnya, wawancara dengan Edi Prayoga pada 11 Februari 2026 menunjukkan bahwa minat masyarakat terhadap kegiatan seni cukup tinggi, tetapi pengelola masih menghadapi keterbatasan dalam pengorganisasian, pembacaan notasi, pengemasan pertunjukan, dan penyusunan sajian artistik.
Kondisi tersebut memperlihatkan adanya kesenjangan antara potensi dan kapasitas aktual. Padepokan memiliki sumber daya manusia, fasilitas, pengalaman berkesenian, serta ruang praktik, tetapi kemampuan tersebut perlu diperkuat melalui pembelajaran yang terarah. Persoalan utama bukan semata-mata ketiadaan aktivitas seni, melainkan bagaimana aktivitas yang telah berjalan dapat dikembangkan menjadi proses pembelajaran dan pembinaan yang lebih terstruktur.
Berdasarkan kondisi tersebut, kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat ini difokuskan pada penguatan kompetensi pengrawit dan juru kawih melalui pelatihan Gamelan Kiliningan–Jaipongan dan Vokal Kepesindenan. Pemilihan materi didasarkan pada hubungan erat antara kedua bidang tersebut dalam praktik pertunjukan. Pengrawit memerlukan kemampuan membaca notasi, memainkan pola tabuhan, menjaga tempo, memahami struktur lagu, dan berkomunikasi dengan juru kawih. Juru kawih membutuhkan kemampuan pernapasan, artikulasi, intonasi, laras, senggol, interpretasi rumpaka, serta kepekaan terhadap iringan gamelan.
Kegiatan ini bertujuan memperkuat kompetensi musikal peserta sekaligus membangun model pembelajaran yang dapat dilanjutkan secara mandiri oleh komunitas. Secara khusus, kegiatan diarahkan untuk meningkatkan kemampuan membaca notasi, menguasai tabuhan dasar Kiliningan dan Jaipongan, memahami struktur gending, mengembangkan dasar tepak kendang Jaipongan,
memperkuat teknik vokal kepesindenan, serta meningkatkan kekompakan ensambel.
Kontribusi utama kegiatan ini terletak pada upaya mempertemukan pengalaman tradisional berbasis praktik dengan strategi pembelajaran yang lebih sistematis. Kegiatan tidak diarahkan untuk menggantikan pola pewarisan tradisi, tetapi memperkuatnya melalui kombinasi demonstrasi, imitasi, notasi, dokumentasi, praktik kelompok, dan pendampingan.
Tabel 1. Peta Kondisi dan Kebutuhan Mitra
|
Aspek |
Potensi/Kondisi yang Telah Dimiliki |
Kebutuhan Penguatan |
|
Sumber daya manusia |
Terdapat pengelola, seniman, dan anggota yang aktif berkesenian |
Peningkatan kompetensi musikal dan kerja ansambel |
|
Aktivitas seni |
Kiliningan, jaipongan, pencak silat, angklung, tarawangsa, dan lainnya |
Pembinaan yang lebih terarah dan berkelanjutan |
|
Sarana |
Gamelan multilaras, tarawangsa, kacapi, rebab, tarompet, angklung, dogdog, sound system |
Pemanfaatan sarana secara optimal untuk proses pembelajaran |
|
Pengrawit |
Telah memiliki pengalaman bermain gamelan |
Penguatan membaca notasi, tabuhan, tempo, dinamika, dan kekompakan |
|
Kendang Jaipongan |
Menjadi bagian dari potensi musikal padepokan |
Penguatan tepak dasar dan pengembangannya |
|
Juru kawih |
Memiliki potensi untuk mendukung penyajian |
Penguatan teknik vokal, laras, senggol, dan interpretasi |
|
Pertunjukan |
Telah dilakukan berdasarkan kesempatan/kebutuhan |
Perencanaan dan pengemasan penyajian yang lebih terstruktur |
|
Kelembagaan |
Padepokan menjadi ruang berkumpul dan berkesenian |
Penguatan tata kelola dan jejaring kemitraan |
|
Keberlanjutan |
Memiliki aktivitas dan sarana yang dapat digunakan |
Pembentukan pola latihan yang dapat dilanjutkan secara mandiri |
2. Metode Pelaksanaan
Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat dilaksanakan di Padepokan Panawung Jaya Guyur Putra Kabupaten Bandung dengan menggunakan pendekatan partisipatif dan praktik langsung. Pendekatan ini dipilih karena peserta merupakan pelaku seni yang telah memiliki pengalaman musikal sehingga proses pembelajaran perlu bertolak dari kemampuan yang telah dimiliki, kemudian diarahkan menuju penguasaan kompetensi yang lebih sistematis.
Pelaksanaan kegiatan dirancang dalam enam tahapan utama, yaitu: (1) sosialisasi dan observasi; (2) identifikasi kemampuan awal; (3) pelatihan gamelan dan vokal; (4) penerapan media dan teknologi; (5) pendampingan serta evaluasi; dan (6) penguatan keberlanjutan program.
2.1 Sosialisasi dan observasi
Tahap awal dilakukan melalui koordinasi antara tim pelaksana dengan pengelola padepokan. Sosialisasi bertujuan menjelaskan tujuan, ruang lingkup, jadwal, materi, bentuk keterlibatan peserta, serta target kegiatan. Pada tahap ini dibangun kesepahaman bahwa pelatihan tidak hanya berorientasi pada hasil pertunjukan, tetapi juga pada peningkatan kemampuan yang dapat digunakan peserta dalam kegiatan seni selanjutnya.
Observasi dilakukan untuk mengetahui kondisi sarana, pola latihan, repertoar yang telah dikuasai, kemampuan awal peserta, serta kebutuhan prioritas. Identifikasi kemampuan awal mencakup kemampuan memainkan waditra, membaca notasi, mengikuti struktur lagu, menjaga
tempo, memahami pola tabuhan, berkoordinasi dalam ensambel, serta kemampuan vokal.
2.2 Penyusunan materi pelatihan
Materi disusun berdasarkan kebutuhan mitra dan karakter musikal Kiliningan–Jaipongan. Pada bidang gamelan, materi meliputi pembacaan notasi, pengenalan struktur lagu, teknik dasar tabuhan, pola iringan, tempo, dinamika, dan kerja ensambel. Materi Jaipongan dilengkapi dengan dasar pengembangan tepak kendang.
Pada bidang vokal, materi meliputi pernapasan, produksi suara, artikulasi, intonasi, pengenalan laras, cengkok, senggol, interpretasi rumpaka, dan sinkronisasi dengan iringan gamelan.
Tabel 2. Materi Pelatihan
|
|
Kompetensi yang Diharapkan |
||
|
Gamelan |
Pengenalan notasi |
Peserta mampu membaca simbol dan urutan nada |
||
|
Gamelan |
Tabuhan dasar Kiliningan |
Peserta mampu memainkan pola dasar |
||
|
Gamelan |
Tabuhan Jaipongan |
Peserta memahami pola iringan |
||
|
Kendang |
Tepak dasar |
Peserta menguasai pola dasar |
||
|
Kendang |
Pengembangan tepak |
Peserta mampu menerapkan variasi sesuai struktur |
||
|
Ensambel |
Tempo dan dinamika |
Peserta mampu menjaga kestabilan musikal |
||
|
Ensambel |
Struktur gending |
Peserta memahami bubuka, eusi, naek, dan panutup |
||
|
Vokal |
Pernapasan |
Peserta mampu mengontrol napas |
||
|
Vokal |
Artikulasi |
Peserta mampu menyampaikan |
|
rumpaka secara jelas |
||
|
Vokal |
Intonasi dan laras |
Peserta mampu menjaga ketepatan nada |
|
Vokal |
Cengkok dan senggol |
Peserta mampu menerapkan ornamentasi dasar |
|
Vokal |
Interpretasi rumpaka |
Peserta mampu membangun ekspresi musikal |
|
Integrasi |
Gamelan dan vokal |
Peserta mampu menyelaraskan vokal dan iringan |
2.3 Pelatihan Gamelan Kiliningan–Jaipongan
Pelatihan gamelan dilaksanakan melalui demonstrasi, imitasi, latihan individual, latihan kelompok, dan penggabungan ensambel. Pelatih memberikan contoh pola tabuhan terlebih dahulu. Peserta mengamati dan mendengarkan, kemudian menirukan pola tersebut.
Materi diberikan secara segmentatif. Satu repertoar tidak langsung dimainkan secara utuh, melainkan dibagi menjadi bagian-bagian musikal yang lebih kecil. Setelah satu bagian dikuasai, bagian berikutnya diperkenalkan dan kemudian digabungkan. Strategi tersebut memungkinkan peserta mengurangi beban hafalan sekaligus memahami struktur musikal secara bertahap.
Pada materi Kiliningan, peserta diarahkan memahami fungsi setiap waditra dan hubungan antarpemain. Pada tahap awal, peserta berlatih bagian individual, kemudian memainkan bagian tersebut dalam kelompok. Dari proses tersebut peserta memperoleh pemahaman bahwa kekompakan tidak hanya ditentukan oleh ketepatan individu, tetapi juga kemampuan mendengar dan menyesuaikan diri.
Pada materi Jaipongan, perhatian diberikan pada hubungan antara kendang dan struktur lagu. Kendang diposisikan sebagai bagian penting dalam komunikasi musikal karena berkaitan dengan perubahan bagian, aksentuasi, laya, dan respons terhadap unsur lain.
2.4 Pelatihan vokal kepesindenan
Pelatihan vokal dimulai dari teknik pernapasan dan produksi suara. Peserta diberikan
latihan pemanasan untuk membangun kesiapan vokal. Setelah itu, latihan diarahkan pada artikulasi, intonasi, dan pengenalan karakter laras.
Latihan repertoar dilakukan frase demi frase. Peserta terlebih dahulu mendengarkan contoh, kemudian menirukan melodi. Setelah melodi dikuasai, peserta diberikan penguatan cengkok dan senggol sesuai karakter lagu. Tahap berikutnya adalah latihan interpretasi rumpaka agar penyajian vokal tidak hanya tepat secara musikal, tetapi juga mampu menyampaikan karakter teks.
2.5 Penerapan media dan teknologi
Teknologi digunakan sebagai media pendukung. Notasi digunakan untuk mendokumentasikan materi, sedangkan audio dan video digunakan untuk membantu peserta mengulang contoh yang diberikan. Dokumentasi latihan juga menjadi arsip bagi padepokan.
Prinsip yang digunakan adalah teknologi mendukung pengalaman langsung, bukan menggantikannya. Peserta tetap belajar melalui mendengar, melihat, menirukan, memainkan instrumen, dan bernyanyi bersama. Dokumentasi digital berfungsi memperpanjang waktu belajar di luar sesi tatap muka.
2.6 Pendampingan dan evaluasi
Pendampingan dilakukan selama kurang lebih tiga bulan. Pendampingan difokuskan pada pemantapan materi, koreksi teknik, pemecahan masalah musikal, dan persiapan penyajian hasil.
Evaluasi dilakukan terhadap kemampuan individual dan kelompok.
Tabel 3. Instrumen Evaluasi Kompetensi
|
No |
Aspek |
Indikator |
|
1 |
Notasi |
Kemampuan membaca dan menerapkan notasi |
|
2 |
Teknik instrumen |
Ketepatan teknik permainan |
|
3 |
Tempo |
Kemampuan menjaga kestabilan laya |
|
4 |
Dinamika |
Kemampuan mengolah keras-lembut permainan |
|
5 |
Struktur |
Kemampuan mengikuti alur lagu |
|
6 |
Ensambel |
Kemampuan menjaga kekompakan |
|
7 |
Vokal |
Ketepatan pernapasan, artikulasi, dan intonasi |
|
8 |
Laras |
Kemampuan menyesuaikan nada dengan iringan |
|
9 |
Senggol |
Kemampuan menerapkan ornamentasi |
|
10 |
Interpretasi |
Kemampuan mengolah karakter rumpaka |
|
11 |
Integrasi |
Kemampuan menyelaraskan vokal dan gamelan |
|
12 |
Kemandirian |
Kemampuan mengulang materi tanpa pelatih |
Evaluasi dilakukan melalui pengamatan proses, praktik individual, praktik kelompok, dan penyajian repertoar. Target program ditetapkan bahwa peserta pengrawit mampu memainkan sekurang-kurangnya dua repertoar Kiliningan–Jaipongan secara utuh, sedangkan peserta vokal mampu menyajikan satu hingga dua lagu dengan intonasi, artikulasi, dan ekspresi yang baik.
3. Hasil dan Pembahasan
3.1 Kondisi awal dan kebutuhan pembelajaran
Hasil observasi menunjukkan bahwa Padepokan Panawung Jaya memiliki modal budaya yang cukup kuat. Keberadaan seniman, ruang latihan, instrumen, pengalaman pertunjukan, dan aktivitas komunitas menjadi dasar yang mendukung pelaksanaan program.
Persoalan yang ditemukan lebih banyak berkaitan dengan sistem pembinaan. Aktivitas kesenian telah berlangsung, tetapi belum seluruhnya ditopang pola latihan yang terdokumentasi. Pengalaman musikal masih banyak bergantung pada ingatan dan contoh langsung dari pemain yang lebih berpengalaman. Kondisi tersebut sebenarnya merupakan karakter yang umum ditemukan dalam transmisi seni tradisi, tetapi menjadi tantangan ketika komunitas ingin meningkatkan kapasitas penyajian dan memperluas proses regenerasi.
Program pelatihan kemudian diarahkan untuk mempertemukan dua kebutuhan. Pertama, kebutuhan mempertahankan karakter belajar tradisi melalui mendengar, melihat, menirukan, dan mengulang. Kedua, kebutuhan menyediakan sistem dokumentasi dan struktur pembelajaran melalui notasi, pembagian materi, evaluasi, dan dokumentasi digital.
3.2 Penguatan kemampuan membaca notasi
Salah satu temuan penting adalah bahwa notasi dapat berfungsi sebagai jembatan
komunikasimusikal. Peserta yang sebelumnyalebihmengandalkanpendengaranmemperolehpengalaman menggunakan notasi sebagai acuanbersama.
Notasi tidak ditempatkan sebagai satu-satunya sumber pengetahuan. Pelatih tetap memberikancontoh melalui praktik langsung. Dengan demikian, hubungan yang dibangunadalahantarasimbol, bunyi, dan geraktubuhketikamemainkaninstrumen.
Pendekatan ini sesuai dengan temuanSupriatna et al. (2025) mengenaipentingnya strategi pembelajaran dalam menghubungkansistem notasi dengan praktiktitilaras Sunda. Dalam konteks Padepokan Panawung Jaya, notasi membantupesertamengingatstruktur dan urutan materi, sementarademonstrasimembantumemastikan bahwa pembacaansimbol tidak terlepasdaripengalamanmusikal.
3.3 PenguatantabuhanKiliningan
PelatihantabuhanKilininganmenunjukkan bahwa kemampuanmemainkaninstrumensecara individual perludiikutikemampuanmembangunhubunganantarinstrumen. Pesertadiarahkanmemahamifungsi masing-masing bagian dan mendengarkanpermainan anggota lain.
Proses latihan dimulaidaripolasederhana. Setelahpesertamampumemainkan bagian masing-masing, seluruh bagian digabungkan. Pada tahap ini munculpersoalan tempo, ketepatan masuk, keseimbanganbunyi, dan koordinasi. Persoalantersebut kemudian menjadi materi pembelajaran tersendiri.
Kegiatan memperlihatkan bahwa ensambelmerupakan ruang belajar yang efektif. Kesalahansatupemaindapatmemengaruhipemain lain sehinggapesertaterdorong untuk meningkatkankemampuanmendengar dan merespons. Hal tersebutmenunjukkan bahwa kompetensimusikal dalam karawitan tidak semata-matabersifat individual, melainkanbersifatrelasional.
3.4 Pengembangan tepak kendang Jaipongan
Kendang menjadi salah satu materi yang memperoleh perhatian khusus. Jaipongan memiliki karakter musikal yang kuat dalam hubungan dengan kendang. Wiresna et al. (2020) menunjukkan bahwa kendang memiliki fungsi dan inspirasi penting dalam perjalanan musikal Jaipongan.
Dalam pelatihan, peserta tidak langsung diarahkan pada variasi tepak yang kompleks. Pembelajaran dimulai dari pola dasar, kemudian dikembangkan melalui pengenalan aksentuasi dan respons terhadap struktur lagu.
Pengembangan tepak dipahami bukan sebagai penambahan variasi semata, tetapi sebagai kemampuan membaca kebutuhan musikal. Pengendang harus mengetahui kapan mempertahankan pola, kapan memberikan aksentuasi, kapan mengubah pola, serta bagaimana berkomunikasi dengan pemain lain.
Dengan demikian, keterampilan kendang membutuhkan kemampuan teknis sekaligus kepekaan musikal. Proses tersebut memperlihatkan bahwa pengembangan kompetensi pengendang harus ditempatkan dalam konteks ensambel.
3.5 Penguatan teknik vokal kepesindenan
Pada bidang vokal, pelatihan memperlihatkan pentingnya tahapan pembelajaran. Peserta tidak langsung diarahkan pada senggol dan interpretasi, tetapi terlebih dahulu memperkuat pernapasan, produksi suara, artikulasi, dan intonasi.
Pernapasan menjadi dasar untuk menghasilkan suara yang stabil. Artikulasi diperlukan agar rumpaka dapat disampaikan dengan jelas. Intonasi menjadi persoalan penting karena vokal harus berhubungan dengan laras gamelan. Setelah dasar tersebut diperoleh, peserta mulai diarahkan pada cengkok dan senggol.
Pembelajaran senggol dilakukan melalui contoh langsung dan pengulangan. Hal tersebut memperlihatkan bahwa ornamentasi vokal tradisi sulit sepenuhnya dijelaskan secara verbal. Peserta perlu mendengar contoh, mencoba, memperoleh koreksi, dan mengulang sampai memperoleh rasa musikal yang sesuai.
Pada tahap berikutnya, interpretasi rumpaka menjadi perhatian. Juru kawih bukan hanya menyuarakan nada, tetapi juga membawa teks dan karakter emosional lagu. Oleh sebab itu, kemampuan vokal perlu dipahami sebagai kesatuan antara teknik, musikalitas, dan ekspresi.
3.6 Integrasi pengrawit dan juru kawih
Tahap integrasi merupakan salah satu bagian penting dalam kegiatan. Setelah pengrawit dan juru kawih berlatih secara terpisah, keduanya dipertemukan dalam praktik ensambel.
Pada tahap ini, persoalan yang sebelumnya tidak tampak dalam latihan individual menjadi lebih jelas. Juru kawih harus menyesuaikan masuk vokal dengan struktur iringan, sedangkan pengrawit perlu memberikan ruang bagi vokal. Tempo, dinamika, frase, dan tanda perubahan bagian menjadi unsur yang harus dipahami bersama.
Kendang memiliki posisi penting dalam komunikasi tersebut karena membantu menghubungkan perubahan musikal. Komunikasi tidak selalu berlangsung melalui instruksi verbal, tetapi juga melalui tanda musikal yang dipahami bersama.
Hubungan tersebut sejalan dengan kajian Maulana dan Gunawan (2024) mengenai peran sekar gending dalam membangun kesatuan pertunjukan. Hubungan vokal dan instrumental bukan dua unsur yang berdiri sendiri, melainkan membentuk kesatuan musikal.
Tabel 4. Perubahan Kompetensi yang Ditargetkan
|
Komponen |
Kondisi |
intervensi |
Capaian yang Diharakan |
|
Pembacaan notasi |
Belum merata |
Latihan notasi dan praktik |
Peserta mampu menggunakan notasi sebagai panduan |
|
Tabuhan Kiliningan |
Berbasis pengalaman |
Demonstrasi dan imitasi |
Penguasaan pola dasar |
|
Tabuhan Jaipongan |
Belum seragam |
Latihan segmentatif |
Keseragaman pola |
|
Kendang |
Pengalaman dasar |
Tepak dasar dan pengembangan |
Respons terhadap struktur lagu |
|
Tempo |
Belum stabil pada semua peserta |
Latihan ensambel |
Stabilitas laya |
|
Dinamika |
Belum terstruktur |
Praktik penyajian |
Pengendalian dinamika |
|
Vokal |
Kemampuan beragam |
Teknik vokal bertahap |
Peningkatan teknik dasar |
|
Laras |
Mengandalkan |
Latihan dengar dan imitasi |
Ketepatan intonasi |
|
pendengaran |
|||
|
Senggol |
Belum seragam |
Demonstrasi dan pengulangan |
Penguasaan senggol dasar |
|
Integrasi |
Belum terstruktur |
Latihan gamelan-vokal |
Kesatuan penyajian |
3.7 Demonstrasi–imitasi sebagai strategi pembelajaran
Strategi utama yang digunakan adalah demonstrasi–imitasi terstruktur. Pelatih memberikan contoh, peserta mengamati, mendengarkan, menirukan, dan menerima koreksi. Pola ini sesuai dengan karakter pembelajaran musik tradisi yang mengutamakan pengalaman langsung.
Keunggulan pendekatan ini terletak pada kemampuannya menghubungkan pengetahuan konseptual dengan pengalaman tubuh. Peserta tidak hanya mengetahui bahwa suatu pola memiliki struktur tertentu, tetapi langsung mengalami bagaimana pola tersebut dimainkan.
Materi kemudian dipecah menjadi unit-unit kecil. Setelah unit dikuasai, unit digabungkan. Strategi tersebut mengurangi kompleksitas materi dan memungkinkan peserta mengembangkan rasa percaya diri.
Baskara et al. (2025) menunjukkan pentingnya pembelajaran bertahap dan scaffolding dalam pembelajaran gamelan. Temuan tersebut relevan dengan proses di Padepokan Panawung Jaya karena peserta memiliki tingkat kemampuan yang beragam.
3.8 Teknologi sebagai media pendukung
Teknologi memberikan kontribusi terutama dalam dokumentasi dan pengulangan materi. Audio dan video memungkinkan peserta mendengarkan kembali contoh yang diberikan pelatih. Notasi digital dapat digunakan sebagai arsip materi.
Penggunaan teknologi juga memiliki arti penting bagi keberlanjutan. Materi yang hanya tersimpan dalam ingatan seorang pelatih memiliki risiko hilang ketika pelatih tidak lagi hadir. Sebaliknya, materi yang didokumentasikan dapat dipelajari oleh anggota lain.
Namun demikian, teknologi tidak ditempatkan sebagai pengganti praktik. Karawitan
merupakanseni yang membutuhkanpengalamanmendengar dan bermainsecara langsung. Oleh sebab itu, teknologiberfungsi sebagai perpanjangan ruang belajar.
Temuan ini memilikihubungan dengan Maulana et al. (2025) yang mengembangkanaplikasi Gamelan Degung Sunda serta Saputra et al. (2024) mengenaiintegrasiteknologi digital dengan pembelajaran musiktradisi.
3.9 Penguatankapasitaskomunitas
Dampak kegiatan tidak berhenti pada peningkatankemampuanindividu. Proses pelatihanmemperlihatkanpentingnyamembangunkebiasaan latihan bersama, pembagian tugas, dokumentasi materi, dan regenerasi anggota.
Padepokan dapatdiposisikan sebagai ruang pendidikanseniberbasiskomunitas. Proses tersebutmemungkinkansenimanberpengalamanmentransmisikanpengetahuankepada anggota yang lebihmuda, sementarapeserta baru memperoleh ruang untuk berkembang.
Konseptersebutsejalan dengan penelitian Lanus et al. (2026) mengenai pembelajaran berbasiskomunitas sebagai saranainternalisasinilaisejarah dan budaya melalui praktikseni. Padepokan dengan demikianbukan hanya ruang pertunjukan, tetapi juga ruang produksi dan reproduksipengetahuan budaya.
3.10 Hubungan perguruan tinggi dan komunitas seni
Kegiatan ini menunjukkan pentingnya hubungan antara perguruan tinggi seni dan komunitas. Perguruan tinggi memiliki sumber daya pengetahuan, tenaga akademik, metode pembelajaran, serta pengalaman penelitian. Sementara itu, komunitas memiliki pengalaman praktik, ruang budaya, jaringan seniman, dan pengetahuan yang lahir dari pengalaman.
Hubungan tersebut sebaiknya tidak dipahami sebagai hubungan satu arah. Perguruan tinggi tidak hanya mentransfer pengetahuan kepada komunitas, tetapi juga belajar dari praktik tradisi yang hidup. Dengan demikian, kegiatan PKM menjadi ruang pertukaran pengetahuan.
Model kemitraan semacam ini relevan dengan arah pengembangan seni dan warisan budaya yang menempatkan keberlanjutan sebagai hasil dari hubungan antara pengetahuan lokal, inovasi, dan penguatan kapasitas masyarakat.
3.11 Model keberlanjutan program
Berdasarkan proses pelaksanaan, keberlanjutan program dapat diarahkan melalui empat komponen: latihan rutin, dokumentasi, regenerasi, dan pengembangan pertunjukan.
Tabel 5. Rencana Keberlanjutan Program
|
Program |
Bentuk Kegiata |
Pelaksanaan |
Freakwensi |
|
Latihan gamelan |
Tabuhan Kiliningan–Jaipongan |
Pengrawit dan pengelola |
Mingguan |
|
Latihan vokal |
Kepesindenan dan repertoar |
Juru kawih |
Mingguan |
|
Latihan gabungan |
Gamelan dan vokal |
Seluruh peserta |
Dua mingguan |
|
Dokumentasi |
Audio, video, dan notasi |
Tim dokumentasi padepokan |
Setiap materi |
|
Regenerasi |
Pelatihan anggota baru |
Seniman senior |
Berkala |
|
Evaluasi |
Penilaian perkembangan |
Pengelola dan pelatih |
Bulanan |
|
pertunjukan |
Penyajian hasil latihan |
Padepokan |
Berkala |
|
Kemitraan |
Pendampingan perguruan tinggi |
ISBI Bandung dan Mitra |
Sesuai Program |
Model tersebut diharapkan dapat mengubah kegiatan latihan yang sebelumnya bersifat situasional menjadi kegiatan pembinaan yang lebih terencana.
4. Kesimpulan
Pelatihan Gamelan Kiliningan–Jaipongan dan Vokal Kepesindenan di Padepokan Panawung Jaya Kabupaten Bandung menunjukkan bahwa penguatan seni tradisi perlu dilakukan melalui perpaduan antara peningkatan keterampilan individu, pengalaman praktik, pembelajaran terstruktur, dan penguatan kapasitas komunitas.
Kondisi awal menunjukkan bahwa padepokan memiliki potensi sumber daya manusia, fasilitas kesenian, pengalaman berkesenian, dan ruang praktik yang cukup memadai. Tantangan utama terletak pada belum meratanya kemampuan membaca notasi, penguasaan tabuhan, pengembangan tepak kendang, teknik vokal, kekompakan ensambel, serta pengemasan pertunjukan.
Strategi demonstrasi–imitasi terstruktur, latihan segmentatif, pengulangan, koreksi, dan praktik bersama sesuai dengan karakter pembelajaran karawitan karena mempertahankan pengalaman musikal langsung sekaligus memberikan struktur pembelajaran yang lebih jelas. Notasi digunakan sebagai media dokumentasi dan komunikasi musikal, sedangkan audio-visual digunakan untuk mendukung pengulangan materi.
Pada bidang gamelan, kegiatan memperkuat pemahaman terhadap tabuhan Kiliningan, pola Jaipongan, struktur gending, tempo, dinamika, dan kerja ensambel. Pada bidang kendang, peserta diarahkan memahami tepak dasar dan pengembangannya berdasarkan kebutuhan musikal. Pada bidang vokal, pelatihan memperkuat pernapasan, artikulasi, intonasi, laras, senggol, dan interpretasi rumpaka.
Tahap integrasi gamelan dan vokal menunjukkan bahwa kompetensi musikal tidak cukup dipahami sebagai kemampuan individual. Kualitas penyajian sangat bergantung pada kemampuan mendengar, merespons, menjaga tempo, memahami struktur, dan berkomunikasi secara musikal.
Penggunaan teknologi memberikan dukungan terhadap keberlanjutan pembelajaran melalui dokumentasi notasi, audio, dan video. Teknologi tidak menggantikan praktik langsung, tetapi memperluas kesempatan peserta untuk mengulang dan mempelajari materi secara mandiri.
Kegiatan juga menunjukkan bahwa padepokan memiliki peluang untuk dikembangkan sebagai ruang pendidikan seni berbasis komunitas. Keberlanjutan program dapat dilakukan melalui latihan rutin, dokumentasi materi, regenerasi anggota, evaluasi berkala, pengembangan repertoar, dan pengemasan pertunjukan.
Dengan demikian, kolaborasi perguruan tinggi seni dengan komunitas seperti Padepokan Panawung Jaya dapat menjadi strategi penting dalam membangun ekosistem seni tradisi yang berkelanjutan. Perguruan tinggi berperan sebagai mitra penguatan pengetahuan dan kapasitas, sedangkan komunitas menjadi ruang hidup bagi praktik, pewarisan, aktualisasi, dan pengembangan seni tradisi.
Tim pelaksana menyampaikan terima kasih kepada Institut Seni Budaya Indonesia Bandung melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat atas dukungan terhadap pelaksanaan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat ini. Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada pengelola, seniman, dan seluruh anggota Padepokan Panawung Jaya Guyur Putra Kabupaten Bandung yang telah memberikan ruang, waktu, serta dukungan selama proses observasi, pelatihan, pendampingan, dan evaluasi. Penghargaan disampaikan pula kepada seluruh peserta yang telah mengikuti proses pembelajaran gamelan dan vokal kepesindenan dengan penuh partisipasi serta kepada semua pihak yang mendukung keberlangsungan kegiatan.
Daftar Pustaka
Adiyani, L. K., Riyanto, E. D., & Afdholy, N. (2024). Cross-generational inclusivity of traditional performing art preservation: A case study of Ludruk Medang Taruna Budaya. Jurnal Penelitian Humaniora, 25(1).
Ananta, O. V., Hernanda, A. H., & Hasyimkan. (2024). Pembelajaran gamelan menggunakan notasi balok di Sanggar Seni Karawitan Surya Pradangga Pajar Mataram. Journal of Music Education and Performing Arts, 4(1).
Bagaskara, A., Sinaga, F. S. S., Audhyati, A., & Maulana, A. (2024). Anthropology of music: A review of history, theory, and development. Musikolastika: Jurnal Pertunjukan dan Pendidikan Musik, 6(2), 185–201. https://doi.org/10.24036/musikolastika.v6i2.194
Baskara, D. N., Permana, P. T., & Barnawi, E. (2025). Strategi pembelajaran gamelan oleh praktisi musik pada kegiatan ekstrakurikuler di SMP PGRI 2 Bandar Sribhawono. Journal of Music Education and Performing Arts, 5(2), 1–16. https://doi.org/10.23960/jmepa.v5i2.1551
Hoerunnisa, D. F. (2025). Saung Angklung Udjo sebagai ruang edukasi dan pelestarian kesenian
tradisional Sunda. Priangan: Journal of Islamic Sundanese Culture, 4(1). https://doi.org/10.15575/priangan.v4i1.47710
Lanus, I. K., Widodo, & Suharto. (2026). Internalization of the historical values of Gamelan Gambang through community-based art and cultural education. Indonesian Journal of Educational Development, 7(2). https://doi.org/10.59672/ijed.v7i2.7050
Maulana, M. R., & Darmawanti, R. (2025). Revisiting the theory of patet in Sundanese karawitan: Between academic theory and artistic practice. Gelar: Jurnal Seni Budaya, 23(2). https://doi.org/10.33153/glr.v23i2.7806
Maulana, M. R., & Gunawan, I. (2024). The role of sekar gending “Kawitan” in Wayang Golek Purwa performance. Virtuoso: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Musik, 7(1), 77–90. https://doi.org/10.26740/vt.v7n1.p77-90
Maulana, M. R., Sukmayadi, Y., Sunaryo, A., & Tresnadi, S. (2025). Digitalization of tradition: An Android-based Gamelan Degung Sundanese application to improve musicianship skills in higher education. PROMUSIKA.
Mujiburrahman, M., Meliza, R., Riski, A., Yunanda, R., Kamil, A. I., Chalid, I., Rahmatika, A., & Nizar, R. (2024). Preservation of traditional art in the modern era: A case study of Seudati dance in the disruption era in Pidie Jaya Regency. Andalas International Journal of Socio-Humanities, 6(2), 91–99. https://doi.org/10.25077/aijosh.v6i2.69
Post, M. H., & Maruti, E. S. (2024). The role of traditional music ‘Karawitan’ in building community resilience in the Sodong Ponorogo Buddhist Village East Java Indonesia to facing the Covid-19 pandemic. Cogent Arts & Humanities, 11(1). https://doi.org/10.1080/23311983.2024.2311004
Saputra, D. N., Cahyono, A., Utomo, U., Raharjo, E., & Nainggolan, O. T. P. (2024). Integrating tradition and technology: Digital Audio Workstation-based learning for traditional music preservation. Resital: Jurnal Seni Pertunjukan.
Saputra, F. A., & Saleh, S. (2024). The movement of Sundanese karawitan artist in the indie music from the perspective of music sociology. PANTUN: Jurnal Ilmiah Seni Budaya, 9(1), 26–39. https://doi.org/10.26742/pantun.v9i1.3200
Simanjuntak, J. A. (2024). Field recording approach of traditional music arts for Ruwatan Bumi G20 culture performance: A case study in West Java. Panggung, 34(1), 17–27. https://doi.org/10.26742/panggung.v34i1.267
Supriatna, N., Sukmayadi, Y., & Gunawan, I. (2025). Implementing Western musical notation in teaching Sundanese titilaras: Qualitative action research. Jurnal Cakrawala Pendidikan, 44(1), 21–37. https://doi.org/10.21831/cp.v44i1.79481
Suharto, S., et al. (2025). Exploring the tripartite performance in the musical enculturation: An ethnographic study of Banyumasan sinden. Resital: Jurnal Seni Pertunjukan.
Wiresna, A. G., Sobarna, C., Caturwati, E., & Gunardi, G. (2020). The relation of kendang and Jaipongan: Functions and inspirations of kendang musicality on Jaipongan’s journey. Harmonia: Journal of Arts Research and Education, 20(2). https://doi.org/10.15294/harmonia.v20i2.24953
Warly, B. (2026). Konservasi budaya: Membangun masa depan melalui seni tradisi. Tambur: Journal of Music Creation, Study and Performance.
Yasa, W. G. P., Sidemen, I. A. W., & Wahyuni, A. A. A. R. (2026). Interaksi adat, agama, dan lembaga budaya dalam pelestarian kesenian tradisional: Studi Padepokan Cipto Mudho Laras di Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Jurnal Multidisiplin Ilmu Akademik, 3(3). https://doi.org/10.61722/jmia.v3i3.9949
**Area/Subject** | **Expected Competency**
Gamelan | Introduction to notation | Participants can read symbols and note sequences
Gamelan | Basic *Kiliningan* playing | Participants can play basic patterns
Gamelan | *Jaipongan* playing | Participants understand accompaniment patterns
*Kendang* | Basic *Tepak* | Beginners master basic patterns
*Kendang* | *Tepak* development | Participants can apply variations according to the structure
Ensemble | Tempo and dynamics | Participants can maintain musical stability
Ensemble | *Gending* structure | Participants understand the *bubuka* (intro), *eusi* (body), *naek* (transition/build-up), and *panutup* (closing)
Vocal | Breathing | Participants can control their breathing
Vocal | Articulation | Participants can deliver lyrics clearly
Vocal | Intonation and pitch | Participants can maintain pitch accuracy
Vocal | *Cengkok* and *senggol* | Participants can apply basic vocal ornamentation
Vocal | Lyric interpretation | Participants can build musical expression
Integration | Gamelan and vocal | Participants can synchronize vocals with the accompaniment
Ucapan Terima Kasih
Padepokan Panawung Jaya in Bandung Regency is an arts community with significant potential for preserving and developing Sundanese traditional arts—specifically kiliningan, jaipong bajidoran, angklung, tarawangsa, and pencak silat. While the group possesses the necessary resources, such as multi-tuning (multilaras) gamelan sets and various traditional instruments, their training and performance processes lack a structured approach. Key challenges include reading musical notation, mastering kiliningan and jaipongan instrumental techniques, developing kendang (drum) patterns, mastering kepesindenan (female vocal) techniques, achieving ensemble cohesion, and effectively packaging performances. This community service initiative aims to enhance the competence of pengrawit (musicians) and juru kawih (vocalists) through training in Kiliningan–Jaipongan gamelan and kepesindenan vocals. The program employs a practical approach comprising socialization, training, technology application, mentoring, evaluation, and sustainability planning. Instruction involves structured demonstration and imitation, progressive practice, repetition, technical correction, and ensemble performance. The curriculum covers notation reading, basic kiliningan and jaipongan playing techniques, kendang patterns, gending (composition) structure, tempo, dynamics, breathing techniques, articulation, intonation, tuning (laras), melodic ornamentation (senggol), lyrical interpretation, and vocal-gamelan synchronization. Results indicate improved participant understanding of notation and musical material, enhanced practical skills, and better ensemble collaboration. The initiative also established more focused training routines and strengthened the partnership between the arts university and the arts community, contributing to the long-term sustainability of traditional arts.
Keywords: Sundanese gamelan, kiliningan, jaipongan, kepesindenan, arts education
1. Pendahuluan
Seni tradisi merupakan bagian penting dari kehidupan kebudayaan masyarakat karena tidak hanya berfungsi sebagai ekspresi artistik, tetapi juga menjadi ruang pewarisan pengetahuan, nilai, identitas, dan pengalaman sosial antargenerasi. Keberadaan seni tradisi berlangsung melalui hubungan yang dinamis antara pelaku, komunitas, ruang budaya, serta perubahan lingkungan sosial. Oleh karena itu, keberlanjutan seni tradisi tidak cukup dipahami sebagai upaya mempertahankan bentuk kesenian sebagaimana adanya, tetapi juga sebagai proses memperkuat
kemampuan masyarakat pendukungnya dalam menjalankan, mempelajari, mengembangkan, dan mentransmisikan pengetahuan kesenian.
Perspektif tersebut menjadi penting karena perubahan sosial dan perkembangan teknologi telah mengubah cara masyarakat berinteraksi dengan seni tradisi. Di satu sisi, perubahan tersebut dapat menimbulkan tantangan berupa berkurangnya ruang praktik dan perubahan minat generasi muda. Di sisi lain, perkembangan teknologi membuka kemungkinan baru untuk mendokumentasikan, mempelajari, dan menyebarluaskan pengetahuan seni. Dengan demikian, pelestarian seni tradisi perlu ditempatkan dalam kerangka yang memungkinkan hubungan antara tradisi, pembelajaran, kreativitas, dan teknologi berkembang secara seimbang.
Kajian mengenai pelestarian seni tradisi memperlihatkan bahwa keberlanjutan kesenian berkaitan erat dengan transmisi pengetahuan, keterlibatan lintas generasi, inovasi, dan kemampuan komunitas dalam merespons perubahan. Adiyani et al. (2024), misalnya, menunjukkan pentingnya inklusivitas lintas generasi dalam keberlanjutan seni pertunjukan tradisional. Mujiburrahman et al. (2024) menempatkan pelestarian seni tradisi dalam hubungan dengan kemampuan komunitas menghadapi perubahan zaman. Dalam konteks tersebut, penguatan kompetensi pelaku menjadi salah satu bagian penting dari strategi keberlanjutan.
Karawitan Sunda merupakan salah satu bentuk seni tradisi yang memiliki sistem musikal kompleks. Kompleksitas tersebut tidak hanya berkaitan dengan keterampilan memainkan waditra, tetapi juga melibatkan pemahaman laras, struktur gending, pola tabuhan, fungsi instrumen, hubungan antarinstrumen, vokal, tempo, dinamika, dan konteks pertunjukan. Seorang pengrawit tidak hanya dituntut mampu memainkan satu pola tabuhan, tetapi juga perlu memahami hubungan musikal antara permainan instrumen yang dimainkannya dengan keseluruhan sajian.
Dalam praktik tradisi, proses penguasaan keterampilan tersebut umumnya berlangsung melalui pengalaman langsung. Peserta belajar dengan mendengar, melihat, menirukan, mengulang, dan mengikuti praktik bersama seniman yang lebih berpengalaman. Pola pembelajaran semacam ini memperlihatkan bahwa pengetahuan karawitan tidak sepenuhnya bersifat tekstual. Sebagian pengetahuan melekat pada pengalaman tubuh, kepekaan pendengaran, kebiasaan bermain, serta kemampuan merespons perubahan musikal secara spontan.
Namun, pengalaman praktik tersebut dapat diperkuat melalui sistem pembelajaran yang lebih terstruktur. Notasi, misalnya, dapat digunakan sebagai alat bantu untuk mendokumentasikan
pola musikal dan memudahkan komunikasi antarpelaku. Ananta et al. (2024) menunjukkan bahwa notasi dapat ditempatkan dalam tahapan persiapan, penyampaian materi, latihan, dan penampilan gamelan. Dalam pembelajaran titilaras Sunda, Supriatna et al. (2025) juga menunjukkan bahwa pemahaman terhadap hubungan simbol notasi dan praktik musikal memerlukan strategi pembelajaran yang sistematis.
Dengan demikian, penggunaan notasi dalam pembelajaran karawitan tradisi tidak harus dipertentangkan dengan metode belajar melalui pendengaran dan imitasi. Keduanya dapat dipadukan. Notasi berfungsi sebagai rujukan tertulis, sedangkan demonstrasi dan imitasi tetap menjadi bagian penting dalam pembentukan kepekaan musikal. Model pembelajaran semacam ini memungkinkan peserta memperoleh pengalaman musikal sekaligus memiliki dokumentasi materi yang dapat dipelajari kembali.
Kebutuhan tersebut juga relevan dalam pembelajaran gamelan Kiliningan dan Jaipongan. Kiliningan merupakan salah satu bentuk pertunjukan Sunda yang mempertemukan permainan gamelan dan vokal kepesindenan. Sementara itu, Jaipongan berkembang sebagai bentuk seni pertunjukan dengan karakter musikal yang kuat, terutama dalam hubungan antara kendang, gamelan, vokal, dan gerak. Kendang memiliki kedudukan penting dalam pembentukan karakter musikal Jaipongan karena berkaitan dengan pengaturan tempo, aksentuasi, perubahan bagian, dan komunikasi antarpemain (Wiresna et al., 2020).
Hubungan antara gamelan dan vokal juga menuntut kemampuan mendengar dan berkomunikasi secara musikal. Juru kawih tidak cukup hanya menguasai melodi lagu, tetapi harus mampu menyesuaikan vokal dengan laras, struktur gending, tempo, dan karakter iringan. Sebaliknya, pengrawit harus mampu memberikan ruang musikal yang sesuai bagi vokal. Dengan demikian, pengembangan kompetensi pengrawit dan juru kawih perlu dilakukan secara terpadu.
Perkembangan teknologi memberikan kemungkinan tambahan bagi proses tersebut. Media audio, video, notasi digital, dan perangkat pengolah suara dapat digunakan untuk mendokumentasikan materi latihan dan memperluas kesempatan belajar. Maulana et al. (2025) menunjukkan potensi aplikasi digital Gamelan Degung Sunda sebagai media untuk mendukung keterampilan bermusik. Saputra et al. (2024) juga memperlihatkan bahwa teknologi Digital Audio Workstation dapat dipadukan dengan pembelajaran musik tradisional. Teknologi dalam konteks ini bukan pengganti pengalaman musikal langsung, melainkan sarana pendukung dokumentasi dan
pengulangan materi.
Kondisitersebutditemukan di Padepokan Panawung Jaya Guyur Putra Kabupaten Bandung. Padepokan berlokasi di Jalan Cangkuang–Cikalong, Kp. Wangun RT 004 RW 008, Desa Jatisari, Kecamatan Cangkuang, Kabupaten Bandung. Padepokan menjadi ruang berkumpul, berlatih, dan mengembangkanberbagaiaktivitassenitradisimasyarakat.
Aktivitas kesenian yang berkembang di padepokan meliputi kiliningan, jaipong bajidoran, angklung, tarawangsa, pencak silat, serta berbagai kegiatan seni tradisi lainnya. Padepokan juga memiliki sejumlah sarana berupa gamelan multilaras, tarawangsa, kacapi, rebab, tarompet, angklung buhun, angling, dogdog, dan perangkat tata suara. Ketersediaan tersebut merupakan modal penting dalam pengembangan kapasitas seni komunitas.

Akan tetapi, keberadaan sarana tidak secara otomatis menghasilkan kualitas pertunjukan. Pemanfaatan instrumen memerlukan kemampuan teknis, pola latihan, koordinasi, pemahaman struktur musikal, dan kemampuan mengorganisasi penyajian. Berdasarkan observasi awal, kegiatan seni di padepokan masih banyak berlangsung dalam bentuk latihan dan pertemuan seniman berdasarkan kebutuhan. Pertunjukan dilakukan secara insidental dan belum seluruhnya didukung konsep artistik serta struktur penyajian yang dirancang secara sistematis
Wawancara dengan Ade Cucu pada 15 November 2025 menunjukkan bahwa padepokan memiliki fungsi sebagai ruang berkumpulnya seniman Kabupaten Bandung, sementara kegiatan kesenian masih berlangsung berdasarkan kesempatan dan kebutuhan komunitas. Selanjutnya, wawancara dengan Edi Prayoga pada 11 Februari 2026 menunjukkan bahwa minat masyarakat terhadap kegiatan seni cukup tinggi, tetapi pengelola masih menghadapi keterbatasan dalam pengorganisasian, pembacaan notasi, pengemasan pertunjukan, dan penyusunan sajian artistik.
Kondisi tersebut memperlihatkan adanya kesenjangan antara potensi dan kapasitas aktual. Padepokan memiliki sumber daya manusia, fasilitas, pengalaman berkesenian, serta ruang praktik, tetapi kemampuan tersebut perlu diperkuat melalui pembelajaran yang terarah. Persoalan utama bukan semata-mata ketiadaan aktivitas seni, melainkan bagaimana aktivitas yang telah berjalan dapat dikembangkan menjadi proses pembelajaran dan pembinaan yang lebih terstruktur.
Berdasarkan kondisi tersebut, kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat ini difokuskan pada penguatan kompetensi pengrawit dan juru kawih melalui pelatihan Gamelan Kiliningan–Jaipongan dan Vokal Kepesindenan. Pemilihan materi didasarkan pada hubungan erat antara kedua bidang tersebut dalam praktik pertunjukan. Pengrawit memerlukan kemampuan membaca notasi, memainkan pola tabuhan, menjaga tempo, memahami struktur lagu, dan berkomunikasi dengan juru kawih. Juru kawih membutuhkan kemampuan pernapasan, artikulasi, intonasi, laras, senggol, interpretasi rumpaka, serta kepekaan terhadap iringan gamelan.
Kegiatan ini bertujuan memperkuat kompetensi musikal peserta sekaligus membangun model pembelajaran yang dapat dilanjutkan secara mandiri oleh komunitas. Secara khusus, kegiatan diarahkan untuk meningkatkan kemampuan membaca notasi, menguasai tabuhan dasar Kiliningan dan Jaipongan, memahami struktur gending, mengembangkan dasar tepak kendang Jaipongan,
memperkuat teknik vokal kepesindenan, serta meningkatkan kekompakan ensambel.
Kontribusi utama kegiatan ini terletak pada upaya mempertemukan pengalaman tradisional berbasis praktik dengan strategi pembelajaran yang lebih sistematis. Kegiatan tidak diarahkan untuk menggantikan pola pewarisan tradisi, tetapi memperkuatnya melalui kombinasi demonstrasi, imitasi, notasi, dokumentasi, praktik kelompok, dan pendampingan.
Tabel 1. Peta Kondisi dan Kebutuhan Mitra
|
Aspek |
Potensi/Kondisi yang Telah Dimiliki |
Kebutuhan Penguatan |
|
Sumber daya manusia |
Terdapat pengelola, seniman, dan anggota yang aktif berkesenian |
Peningkatan kompetensi musikal dan kerja ansambel |
|
Aktivitas seni |
Kiliningan, jaipongan, pencak silat, angklung, tarawangsa, dan lainnya |
Pembinaan yang lebih terarah dan berkelanjutan |
|
Sarana |
Gamelan multilaras, tarawangsa, kacapi, rebab, tarompet, angklung, dogdog, sound system |
Pemanfaatan sarana secara optimal untuk proses pembelajaran |
|
Pengrawit |
Telah memiliki pengalaman bermain gamelan |
Penguatan membaca notasi, tabuhan, tempo, dinamika, dan kekompakan |
|
Kendang Jaipongan |
Menjadi bagian dari potensi musikal padepokan |
Penguatan tepak dasar dan pengembangannya |
|
Juru kawih |
Memiliki potensi untuk mendukung penyajian |
Penguatan teknik vokal, laras, senggol, dan interpretasi |
|
Pertunjukan |
Telah dilakukan berdasarkan kesempatan/kebutuhan |
Perencanaan dan pengemasan penyajian yang lebih terstruktur |
|
Kelembagaan |
Padepokan menjadi ruang berkumpul dan berkesenian |
Penguatan tata kelola dan jejaring kemitraan |
|
Keberlanjutan |
Memiliki aktivitas dan sarana yang dapat digunakan |
Pembentukan pola latihan yang dapat dilanjutkan secara mandiri |
2. Metode Pelaksanaan
Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat dilaksanakan di Padepokan Panawung Jaya Guyur Putra Kabupaten Bandung dengan menggunakan pendekatan partisipatif dan praktik langsung. Pendekatan ini dipilih karena peserta merupakan pelaku seni yang telah memiliki pengalaman musikal sehingga proses pembelajaran perlu bertolak dari kemampuan yang telah dimiliki, kemudian diarahkan menuju penguasaan kompetensi yang lebih sistematis.
Pelaksanaan kegiatan dirancang dalam enam tahapan utama, yaitu: (1) sosialisasi dan observasi; (2) identifikasi kemampuan awal; (3) pelatihan gamelan dan vokal; (4) penerapan media dan teknologi; (5) pendampingan serta evaluasi; dan (6) penguatan keberlanjutan program.
2.1 Sosialisasi dan observasi
Tahap awal dilakukan melalui koordinasi antara tim pelaksana dengan pengelola padepokan. Sosialisasi bertujuan menjelaskan tujuan, ruang lingkup, jadwal, materi, bentuk keterlibatan peserta, serta target kegiatan. Pada tahap ini dibangun kesepahaman bahwa pelatihan tidak hanya berorientasi pada hasil pertunjukan, tetapi juga pada peningkatan kemampuan yang dapat digunakan peserta dalam kegiatan seni selanjutnya.
Observasi dilakukan untuk mengetahui kondisi sarana, pola latihan, repertoar yang telah dikuasai, kemampuan awal peserta, serta kebutuhan prioritas. Identifikasi kemampuan awal mencakup kemampuan memainkan waditra, membaca notasi, mengikuti struktur lagu, menjaga
tempo, memahami pola tabuhan, berkoordinasi dalam ensambel, serta kemampuan vokal.
2.2 Penyusunan materi pelatihan
Materi disusun berdasarkan kebutuhan mitra dan karakter musikal Kiliningan–Jaipongan. Pada bidang gamelan, materi meliputi pembacaan notasi, pengenalan struktur lagu, teknik dasar tabuhan, pola iringan, tempo, dinamika, dan kerja ensambel. Materi Jaipongan dilengkapi dengan dasar pengembangan tepak kendang.
Pada bidang vokal, materi meliputi pernapasan, produksi suara, artikulasi, intonasi, pengenalan laras, cengkok, senggol, interpretasi rumpaka, dan sinkronisasi dengan iringan gamelan.
Tabel 2. Materi Pelatihan
|
|
Kompetensi yang Diharapkan |
||
|
Gamelan |
Pengenalan notasi |
Peserta mampu membaca simbol dan urutan nada |
||
|
Gamelan |
Tabuhan dasar Kiliningan |
Peserta mampu memainkan pola dasar |
||
|
Gamelan |
Tabuhan Jaipongan |
Peserta memahami pola iringan |
||
|
Kendang |
Tepak dasar |
Peserta menguasai pola dasar |
||
|
Kendang |
Pengembangan tepak |
Peserta mampu menerapkan variasi sesuai struktur |
||
|
Ensambel |
Tempo dan dinamika |
Peserta mampu menjaga kestabilan musikal |
||
|
Ensambel |
Struktur gending |
Peserta memahami bubuka, eusi, naek, dan panutup |
||
|
Vokal |
Pernapasan |
Peserta mampu mengontrol napas |
||
|
Vokal |
Artikulasi |
Peserta mampu menyampaikan |
|
rumpaka secara jelas |
||
|
Vokal |
Intonasi dan laras |
Peserta mampu menjaga ketepatan nada |
|
Vokal |
Cengkok dan senggol |
Peserta mampu menerapkan ornamentasi dasar |
|
Vokal |
Interpretasi rumpaka |
Peserta mampu membangun ekspresi musikal |
|
Integrasi |
Gamelan dan vokal |
Peserta mampu menyelaraskan vokal dan iringan |
2.3 Pelatihan Gamelan Kiliningan–Jaipongan
Pelatihan gamelan dilaksanakan melalui demonstrasi, imitasi, latihan individual, latihan kelompok, dan penggabungan ensambel. Pelatih memberikan contoh pola tabuhan terlebih dahulu. Peserta mengamati dan mendengarkan, kemudian menirukan pola tersebut.
Materi diberikan secara segmentatif. Satu repertoar tidak langsung dimainkan secara utuh, melainkan dibagi menjadi bagian-bagian musikal yang lebih kecil. Setelah satu bagian dikuasai, bagian berikutnya diperkenalkan dan kemudian digabungkan. Strategi tersebut memungkinkan peserta mengurangi beban hafalan sekaligus memahami struktur musikal secara bertahap.
Pada materi Kiliningan, peserta diarahkan memahami fungsi setiap waditra dan hubungan antarpemain. Pada tahap awal, peserta berlatih bagian individual, kemudian memainkan bagian tersebut dalam kelompok. Dari proses tersebut peserta memperoleh pemahaman bahwa kekompakan tidak hanya ditentukan oleh ketepatan individu, tetapi juga kemampuan mendengar dan menyesuaikan diri.
Pada materi Jaipongan, perhatian diberikan pada hubungan antara kendang dan struktur lagu. Kendang diposisikan sebagai bagian penting dalam komunikasi musikal karena berkaitan dengan perubahan bagian, aksentuasi, laya, dan respons terhadap unsur lain.
2.4 Pelatihan vokal kepesindenan
Pelatihan vokal dimulai dari teknik pernapasan dan produksi suara. Peserta diberikan
latihan pemanasan untuk membangun kesiapan vokal. Setelah itu, latihan diarahkan pada artikulasi, intonasi, dan pengenalan karakter laras.
Latihan repertoar dilakukan frase demi frase. Peserta terlebih dahulu mendengarkan contoh, kemudian menirukan melodi. Setelah melodi dikuasai, peserta diberikan penguatan cengkok dan senggol sesuai karakter lagu. Tahap berikutnya adalah latihan interpretasi rumpaka agar penyajian vokal tidak hanya tepat secara musikal, tetapi juga mampu menyampaikan karakter teks.
2.5 Penerapan media dan teknologi
Teknologi digunakan sebagai media pendukung. Notasi digunakan untuk mendokumentasikan materi, sedangkan audio dan video digunakan untuk membantu peserta mengulang contoh yang diberikan. Dokumentasi latihan juga menjadi arsip bagi padepokan.
Prinsip yang digunakan adalah teknologi mendukung pengalaman langsung, bukan menggantikannya. Peserta tetap belajar melalui mendengar, melihat, menirukan, memainkan instrumen, dan bernyanyi bersama. Dokumentasi digital berfungsi memperpanjang waktu belajar di luar sesi tatap muka.
2.6 Pendampingan dan evaluasi
Pendampingan dilakukan selama kurang lebih tiga bulan. Pendampingan difokuskan pada pemantapan materi, koreksi teknik, pemecahan masalah musikal, dan persiapan penyajian hasil.
Evaluasi dilakukan terhadap kemampuan individual dan kelompok.
Tabel 3. Instrumen Evaluasi Kompetensi
|
No |
Aspek |
Indikator |
|
1 |
Notasi |
Kemampuan membaca dan menerapkan notasi |
|
2 |
Teknik instrumen |
Ketepatan teknik permainan |
|
3 |
Tempo |
Kemampuan menjaga kestabilan laya |
|
4 |
Dinamika |
Kemampuan mengolah keras-lembut permainan |
|
5 |
Struktur |
Kemampuan mengikuti alur lagu |
|
6 |
Ensambel |
Kemampuan menjaga kekompakan |
|
7 |
Vokal |
Ketepatan pernapasan, artikulasi, dan intonasi |
|
8 |
Laras |
Kemampuan menyesuaikan nada dengan iringan |
|
9 |
Senggol |
Kemampuan menerapkan ornamentasi |
|
10 |
Interpretasi |
Kemampuan mengolah karakter rumpaka |
|
11 |
Integrasi |
Kemampuan menyelaraskan vokal dan gamelan |
|
12 |
Kemandirian |
Kemampuan mengulang materi tanpa pelatih |
Evaluasi dilakukan melalui pengamatan proses, praktik individual, praktik kelompok, dan penyajian repertoar. Target program ditetapkan bahwa peserta pengrawit mampu memainkan sekurang-kurangnya dua repertoar Kiliningan–Jaipongan secara utuh, sedangkan peserta vokal mampu menyajikan satu hingga dua lagu dengan intonasi, artikulasi, dan ekspresi yang baik.
3. Hasil dan Pembahasan
3.1 Kondisi awal dan kebutuhan pembelajaran
Hasil observasi menunjukkan bahwa Padepokan Panawung Jaya memiliki modal budaya yang cukup kuat. Keberadaan seniman, ruang latihan, instrumen, pengalaman pertunjukan, dan aktivitas komunitas menjadi dasar yang mendukung pelaksanaan program.
Persoalan yang ditemukan lebih banyak berkaitan dengan sistem pembinaan. Aktivitas kesenian telah berlangsung, tetapi belum seluruhnya ditopang pola latihan yang terdokumentasi. Pengalaman musikal masih banyak bergantung pada ingatan dan contoh langsung dari pemain yang lebih berpengalaman. Kondisi tersebut sebenarnya merupakan karakter yang umum ditemukan dalam transmisi seni tradisi, tetapi menjadi tantangan ketika komunitas ingin meningkatkan kapasitas penyajian dan memperluas proses regenerasi.
Program pelatihan kemudian diarahkan untuk mempertemukan dua kebutuhan. Pertama, kebutuhan mempertahankan karakter belajar tradisi melalui mendengar, melihat, menirukan, dan mengulang. Kedua, kebutuhan menyediakan sistem dokumentasi dan struktur pembelajaran melalui notasi, pembagian materi, evaluasi, dan dokumentasi digital.
3.2 Penguatan kemampuan membaca notasi
Salah satu temuan penting adalah bahwa notasi dapat berfungsi sebagai jembatan
komunikasimusikal. Peserta yang sebelumnyalebihmengandalkanpendengaranmemperolehpengalaman menggunakan notasi sebagai acuanbersama.
Notasi tidak ditempatkan sebagai satu-satunya sumber pengetahuan. Pelatih tetap memberikancontoh melalui praktik langsung. Dengan demikian, hubungan yang dibangunadalahantarasimbol, bunyi, dan geraktubuhketikamemainkaninstrumen.
Pendekatan ini sesuai dengan temuanSupriatna et al. (2025) mengenaipentingnya strategi pembelajaran dalam menghubungkansistem notasi dengan praktiktitilaras Sunda. Dalam konteks Padepokan Panawung Jaya, notasi membantupesertamengingatstruktur dan urutan materi, sementarademonstrasimembantumemastikan bahwa pembacaansimbol tidak terlepasdaripengalamanmusikal.
3.3 PenguatantabuhanKiliningan
PelatihantabuhanKilininganmenunjukkan bahwa kemampuanmemainkaninstrumensecara individual perludiikutikemampuanmembangunhubunganantarinstrumen. Pesertadiarahkanmemahamifungsi masing-masing bagian dan mendengarkanpermainan anggota lain.
Proses latihan dimulaidaripolasederhana. Setelahpesertamampumemainkan bagian masing-masing, seluruh bagian digabungkan. Pada tahap ini munculpersoalan tempo, ketepatan masuk, keseimbanganbunyi, dan koordinasi. Persoalantersebut kemudian menjadi materi pembelajaran tersendiri.
Kegiatan memperlihatkan bahwa ensambelmerupakan ruang belajar yang efektif. Kesalahansatupemaindapatmemengaruhipemain lain sehinggapesertaterdorong untuk meningkatkankemampuanmendengar dan merespons. Hal tersebutmenunjukkan bahwa kompetensimusikal dalam karawitan tidak semata-matabersifat individual, melainkanbersifatrelasional.
3.4 Pengembangan tepak kendang Jaipongan
Kendang menjadi salah satu materi yang memperoleh perhatian khusus. Jaipongan memiliki karakter musikal yang kuat dalam hubungan dengan kendang. Wiresna et al. (2020) menunjukkan bahwa kendang memiliki fungsi dan inspirasi penting dalam perjalanan musikal Jaipongan.
Dalam pelatihan, peserta tidak langsung diarahkan pada variasi tepak yang kompleks. Pembelajaran dimulai dari pola dasar, kemudian dikembangkan melalui pengenalan aksentuasi dan respons terhadap struktur lagu.
Pengembangan tepak dipahami bukan sebagai penambahan variasi semata, tetapi sebagai kemampuan membaca kebutuhan musikal. Pengendang harus mengetahui kapan mempertahankan pola, kapan memberikan aksentuasi, kapan mengubah pola, serta bagaimana berkomunikasi dengan pemain lain.
Dengan demikian, keterampilan kendang membutuhkan kemampuan teknis sekaligus kepekaan musikal. Proses tersebut memperlihatkan bahwa pengembangan kompetensi pengendang harus ditempatkan dalam konteks ensambel.
3.5 Penguatan teknik vokal kepesindenan
Pada bidang vokal, pelatihan memperlihatkan pentingnya tahapan pembelajaran. Peserta tidak langsung diarahkan pada senggol dan interpretasi, tetapi terlebih dahulu memperkuat pernapasan, produksi suara, artikulasi, dan intonasi.
Pernapasan menjadi dasar untuk menghasilkan suara yang stabil. Artikulasi diperlukan agar rumpaka dapat disampaikan dengan jelas. Intonasi menjadi persoalan penting karena vokal harus berhubungan dengan laras gamelan. Setelah dasar tersebut diperoleh, peserta mulai diarahkan pada cengkok dan senggol.
Pembelajaran senggol dilakukan melalui contoh langsung dan pengulangan. Hal tersebut memperlihatkan bahwa ornamentasi vokal tradisi sulit sepenuhnya dijelaskan secara verbal. Peserta perlu mendengar contoh, mencoba, memperoleh koreksi, dan mengulang sampai memperoleh rasa musikal yang sesuai.
Pada tahap berikutnya, interpretasi rumpaka menjadi perhatian. Juru kawih bukan hanya menyuarakan nada, tetapi juga membawa teks dan karakter emosional lagu. Oleh sebab itu, kemampuan vokal perlu dipahami sebagai kesatuan antara teknik, musikalitas, dan ekspresi.
3.6 Integrasi pengrawit dan juru kawih
Tahap integrasi merupakan salah satu bagian penting dalam kegiatan. Setelah pengrawit dan juru kawih berlatih secara terpisah, keduanya dipertemukan dalam praktik ensambel.
Pada tahap ini, persoalan yang sebelumnya tidak tampak dalam latihan individual menjadi lebih jelas. Juru kawih harus menyesuaikan masuk vokal dengan struktur iringan, sedangkan pengrawit perlu memberikan ruang bagi vokal. Tempo, dinamika, frase, dan tanda perubahan bagian menjadi unsur yang harus dipahami bersama.
Kendang memiliki posisi penting dalam komunikasi tersebut karena membantu menghubungkan perubahan musikal. Komunikasi tidak selalu berlangsung melalui instruksi verbal, tetapi juga melalui tanda musikal yang dipahami bersama.
Hubungan tersebut sejalan dengan kajian Maulana dan Gunawan (2024) mengenai peran sekar gending dalam membangun kesatuan pertunjukan. Hubungan vokal dan instrumental bukan dua unsur yang berdiri sendiri, melainkan membentuk kesatuan musikal.
Tabel 4. Perubahan Kompetensi yang Ditargetkan
|
Komponen |
Kondisi |
intervensi |
Capaian yang Diharakan |
|
Pembacaan notasi |
Belum merata |
Latihan notasi dan praktik |
Peserta mampu menggunakan notasi sebagai panduan |
|
Tabuhan Kiliningan |
Berbasis pengalaman |
Demonstrasi dan imitasi |
Penguasaan pola dasar |
|
Tabuhan Jaipongan |
Belum seragam |
Latihan segmentatif |
Keseragaman pola |
|
Kendang |
Pengalaman dasar |
Tepak dasar dan pengembangan |
Respons terhadap struktur lagu |
|
Tempo |
Belum stabil pada semua peserta |
Latihan ensambel |
Stabilitas laya |
|
Dinamika |
Belum terstruktur |
Praktik penyajian |
Pengendalian dinamika |
|
Vokal |
Kemampuan beragam |
Teknik vokal bertahap |
Peningkatan teknik dasar |
|
Laras |
Mengandalkan |
Latihan dengar dan imitasi |
Ketepatan intonasi |
|
pendengaran |
|||
|
Senggol |
Belum seragam |
Demonstrasi dan pengulangan |
Penguasaan senggol dasar |
|
Integrasi |
Belum terstruktur |
Latihan gamelan-vokal |
Kesatuan penyajian |
3.7 Demonstrasi–imitasi sebagai strategi pembelajaran
Strategi utama yang digunakan adalah demonstrasi–imitasi terstruktur. Pelatih memberikan contoh, peserta mengamati, mendengarkan, menirukan, dan menerima koreksi. Pola ini sesuai dengan karakter pembelajaran musik tradisi yang mengutamakan pengalaman langsung.
Keunggulan pendekatan ini terletak pada kemampuannya menghubungkan pengetahuan konseptual dengan pengalaman tubuh. Peserta tidak hanya mengetahui bahwa suatu pola memiliki struktur tertentu, tetapi langsung mengalami bagaimana pola tersebut dimainkan.
Materi kemudian dipecah menjadi unit-unit kecil. Setelah unit dikuasai, unit digabungkan. Strategi tersebut mengurangi kompleksitas materi dan memungkinkan peserta mengembangkan rasa percaya diri.
Baskara et al. (2025) menunjukkan pentingnya pembelajaran bertahap dan scaffolding dalam pembelajaran gamelan. Temuan tersebut relevan dengan proses di Padepokan Panawung Jaya karena peserta memiliki tingkat kemampuan yang beragam.
3.8 Teknologi sebagai media pendukung
Teknologi memberikan kontribusi terutama dalam dokumentasi dan pengulangan materi. Audio dan video memungkinkan peserta mendengarkan kembali contoh yang diberikan pelatih. Notasi digital dapat digunakan sebagai arsip materi.
Penggunaan teknologi juga memiliki arti penting bagi keberlanjutan. Materi yang hanya tersimpan dalam ingatan seorang pelatih memiliki risiko hilang ketika pelatih tidak lagi hadir. Sebaliknya, materi yang didokumentasikan dapat dipelajari oleh anggota lain.
Namun demikian, teknologi tidak ditempatkan sebagai pengganti praktik. Karawitan
merupakanseni yang membutuhkanpengalamanmendengar dan bermainsecara langsung. Oleh sebab itu, teknologiberfungsi sebagai perpanjangan ruang belajar.
Temuan ini memilikihubungan dengan Maulana et al. (2025) yang mengembangkanaplikasi Gamelan Degung Sunda serta Saputra et al. (2024) mengenaiintegrasiteknologi digital dengan pembelajaran musiktradisi.
3.9 Penguatankapasitaskomunitas
Dampak kegiatan tidak berhenti pada peningkatankemampuanindividu. Proses pelatihanmemperlihatkanpentingnyamembangunkebiasaan latihan bersama, pembagian tugas, dokumentasi materi, dan regenerasi anggota.
Padepokan dapatdiposisikan sebagai ruang pendidikanseniberbasiskomunitas. Proses tersebutmemungkinkansenimanberpengalamanmentransmisikanpengetahuankepada anggota yang lebihmuda, sementarapeserta baru memperoleh ruang untuk berkembang.
Konseptersebutsejalan dengan penelitian Lanus et al. (2026) mengenai pembelajaran berbasiskomunitas sebagai saranainternalisasinilaisejarah dan budaya melalui praktikseni. Padepokan dengan demikianbukan hanya ruang pertunjukan, tetapi juga ruang produksi dan reproduksipengetahuan budaya.
3.10 Hubungan perguruan tinggi dan komunitas seni
Kegiatan ini menunjukkan pentingnya hubungan antara perguruan tinggi seni dan komunitas. Perguruan tinggi memiliki sumber daya pengetahuan, tenaga akademik, metode pembelajaran, serta pengalaman penelitian. Sementara itu, komunitas memiliki pengalaman praktik, ruang budaya, jaringan seniman, dan pengetahuan yang lahir dari pengalaman.
Hubungan tersebut sebaiknya tidak dipahami sebagai hubungan satu arah. Perguruan tinggi tidak hanya mentransfer pengetahuan kepada komunitas, tetapi juga belajar dari praktik tradisi yang hidup. Dengan demikian, kegiatan PKM menjadi ruang pertukaran pengetahuan.
Model kemitraan semacam ini relevan dengan arah pengembangan seni dan warisan budaya yang menempatkan keberlanjutan sebagai hasil dari hubungan antara pengetahuan lokal, inovasi, dan penguatan kapasitas masyarakat.
3.11 Model keberlanjutan program
Berdasarkan proses pelaksanaan, keberlanjutan program dapat diarahkan melalui empat komponen: latihan rutin, dokumentasi, regenerasi, dan pengembangan pertunjukan.
Tabel 5. Rencana Keberlanjutan Program
|
Program |
Bentuk Kegiata |
Pelaksanaan |
Freakwensi |
|
Latihan gamelan |
Tabuhan Kiliningan–Jaipongan |
Pengrawit dan pengelola |
Mingguan |
|
Latihan vokal |
Kepesindenan dan repertoar |
Juru kawih |
Mingguan |
|
Latihan gabungan |
Gamelan dan vokal |
Seluruh peserta |
Dua mingguan |
|
Dokumentasi |
Audio, video, dan notasi |
Tim dokumentasi padepokan |
Setiap materi |
|
Regenerasi |
Pelatihan anggota baru |
Seniman senior |
Berkala |
|
Evaluasi |
Penilaian perkembangan |
Pengelola dan pelatih |
Bulanan |
|
pertunjukan |
Penyajian hasil latihan |
Padepokan |
Berkala |
|
Kemitraan |
Pendampingan perguruan tinggi |
ISBI Bandung dan Mitra |
Sesuai Program |
Model tersebut diharapkan dapat mengubah kegiatan latihan yang sebelumnya bersifat situasional menjadi kegiatan pembinaan yang lebih terencana.
4. Kesimpulan
Pelatihan Gamelan Kiliningan–Jaipongan dan Vokal Kepesindenan di Padepokan Panawung Jaya Kabupaten Bandung menunjukkan bahwa penguatan seni tradisi perlu dilakukan melalui perpaduan antara peningkatan keterampilan individu, pengalaman praktik, pembelajaran terstruktur, dan penguatan kapasitas komunitas.
Kondisi awal menunjukkan bahwa padepokan memiliki potensi sumber daya manusia, fasilitas kesenian, pengalaman berkesenian, dan ruang praktik yang cukup memadai. Tantangan utama terletak pada belum meratanya kemampuan membaca notasi, penguasaan tabuhan, pengembangan tepak kendang, teknik vokal, kekompakan ensambel, serta pengemasan pertunjukan.
Strategi demonstrasi–imitasi terstruktur, latihan segmentatif, pengulangan, koreksi, dan praktik bersama sesuai dengan karakter pembelajaran karawitan karena mempertahankan pengalaman musikal langsung sekaligus memberikan struktur pembelajaran yang lebih jelas. Notasi digunakan sebagai media dokumentasi dan komunikasi musikal, sedangkan audio-visual digunakan untuk mendukung pengulangan materi.
Pada bidang gamelan, kegiatan memperkuat pemahaman terhadap tabuhan Kiliningan, pola Jaipongan, struktur gending, tempo, dinamika, dan kerja ensambel. Pada bidang kendang, peserta diarahkan memahami tepak dasar dan pengembangannya berdasarkan kebutuhan musikal. Pada bidang vokal, pelatihan memperkuat pernapasan, artikulasi, intonasi, laras, senggol, dan interpretasi rumpaka.
Tahap integrasi gamelan dan vokal menunjukkan bahwa kompetensi musikal tidak cukup dipahami sebagai kemampuan individual. Kualitas penyajian sangat bergantung pada kemampuan mendengar, merespons, menjaga tempo, memahami struktur, dan berkomunikasi secara musikal.
Penggunaan teknologi memberikan dukungan terhadap keberlanjutan pembelajaran melalui dokumentasi notasi, audio, dan video. Teknologi tidak menggantikan praktik langsung, tetapi memperluas kesempatan peserta untuk mengulang dan mempelajari materi secara mandiri.
Kegiatan juga menunjukkan bahwa padepokan memiliki peluang untuk dikembangkan sebagai ruang pendidikan seni berbasis komunitas. Keberlanjutan program dapat dilakukan melalui latihan rutin, dokumentasi materi, regenerasi anggota, evaluasi berkala, pengembangan repertoar, dan pengemasan pertunjukan.
Dengan demikian, kolaborasi perguruan tinggi seni dengan komunitas seperti Padepokan Panawung Jaya dapat menjadi strategi penting dalam membangun ekosistem seni tradisi yang berkelanjutan. Perguruan tinggi berperan sebagai mitra penguatan pengetahuan dan kapasitas, sedangkan komunitas menjadi ruang hidup bagi praktik, pewarisan, aktualisasi, dan pengembangan seni tradisi.
Tim pelaksana menyampaikan terima kasih kepada Institut Seni Budaya Indonesia Bandung melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat atas dukungan terhadap pelaksanaan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat ini. Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada pengelola, seniman, dan seluruh anggota Padepokan Panawung Jaya Guyur Putra Kabupaten Bandung yang telah memberikan ruang, waktu, serta dukungan selama proses observasi, pelatihan, pendampingan, dan evaluasi. Penghargaan disampaikan pula kepada seluruh peserta yang telah mengikuti proses pembelajaran gamelan dan vokal kepesindenan dengan penuh partisipasi serta kepada semua pihak yang mendukung keberlangsungan kegiatan.
Daftar Pustaka
Adiyani, L. K., Riyanto, E. D., & Afdholy, N. (2024). Cross-generational inclusivity of traditional performing art preservation: A case study of Ludruk Medang Taruna Budaya. Jurnal Penelitian Humaniora, 25(1).
Ananta, O. V., Hernanda, A. H., & Hasyimkan. (2024). Pembelajaran gamelan menggunakan notasi balok di Sanggar Seni Karawitan Surya Pradangga Pajar Mataram. Journal of Music Education and Performing Arts, 4(1).
Bagaskara, A., Sinaga, F. S. S., Audhyati, A., & Maulana, A. (2024). Anthropology of music: A review of history, theory, and development. Musikolastika: Jurnal Pertunjukan dan Pendidikan Musik, 6(2), 185–201. https://doi.org/10.24036/musikolastika.v6i2.194
Baskara, D. N., Permana, P. T., & Barnawi, E. (2025). Strategi pembelajaran gamelan oleh praktisi musik pada kegiatan ekstrakurikuler di SMP PGRI 2 Bandar Sribhawono. Journal of Music Education and Performing Arts, 5(2), 1–16. https://doi.org/10.23960/jmepa.v5i2.1551
Hoerunnisa, D. F. (2025). Saung Angklung Udjo sebagai ruang edukasi dan pelestarian kesenian
tradisional Sunda. Priangan: Journal of Islamic Sundanese Culture, 4(1). https://doi.org/10.15575/priangan.v4i1.47710
Lanus, I. K., Widodo, & Suharto. (2026). Internalization of the historical values of Gamelan Gambang through community-based art and cultural education. Indonesian Journal of Educational Development, 7(2). https://doi.org/10.59672/ijed.v7i2.7050
Maulana, M. R., & Darmawanti, R. (2025). Revisiting the theory of patet in Sundanese karawitan: Between academic theory and artistic practice. Gelar: Jurnal Seni Budaya, 23(2). https://doi.org/10.33153/glr.v23i2.7806
Maulana, M. R., & Gunawan, I. (2024). The role of sekar gending “Kawitan” in Wayang Golek Purwa performance. Virtuoso: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Musik, 7(1), 77–90. https://doi.org/10.26740/vt.v7n1.p77-90
Maulana, M. R., Sukmayadi, Y., Sunaryo, A., & Tresnadi, S. (2025). Digitalization of tradition: An Android-based Gamelan Degung Sundanese application to improve musicianship skills in higher education. PROMUSIKA.
Mujiburrahman, M., Meliza, R., Riski, A., Yunanda, R., Kamil, A. I., Chalid, I., Rahmatika, A., & Nizar, R. (2024). Preservation of traditional art in the modern era: A case study of Seudati dance in the disruption era in Pidie Jaya Regency. Andalas International Journal of Socio-Humanities, 6(2), 91–99. https://doi.org/10.25077/aijosh.v6i2.69
Post, M. H., & Maruti, E. S. (2024). The role of traditional music ‘Karawitan’ in building community resilience in the Sodong Ponorogo Buddhist Village East Java Indonesia to facing the Covid-19 pandemic. Cogent Arts & Humanities, 11(1). https://doi.org/10.1080/23311983.2024.2311004
Saputra, D. N., Cahyono, A., Utomo, U., Raharjo, E., & Nainggolan, O. T. P. (2024). Integrating tradition and technology: Digital Audio Workstation-based learning for traditional music preservation. Resital: Jurnal Seni Pertunjukan.
Saputra, F. A., & Saleh, S. (2024). The movement of Sundanese karawitan artist in the indie music from the perspective of music sociology. PANTUN: Jurnal Ilmiah Seni Budaya, 9(1), 26–39. https://doi.org/10.26742/pantun.v9i1.3200
Simanjuntak, J. A. (2024). Field recording approach of traditional music arts for Ruwatan Bumi G20 culture performance: A case study in West Java. Panggung, 34(1), 17–27. https://doi.org/10.26742/panggung.v34i1.267
Supriatna, N., Sukmayadi, Y., & Gunawan, I. (2025). Implementing Western musical notation in teaching Sundanese titilaras: Qualitative action research. Jurnal Cakrawala Pendidikan, 44(1), 21–37. https://doi.org/10.21831/cp.v44i1.79481
Suharto, S., et al. (2025). Exploring the tripartite performance in the musical enculturation: An ethnographic study of Banyumasan sinden. Resital: Jurnal Seni Pertunjukan.
Wiresna, A. G., Sobarna, C., Caturwati, E., & Gunardi, G. (2020). The relation of kendang and Jaipongan: Functions and inspirations of kendang musicality on Jaipongan’s journey. Harmonia: Journal of Arts Research and Education, 20(2). https://doi.org/10.15294/harmonia.v20i2.24953
Warly, B. (2026). Konservasi budaya: Membangun masa depan melalui seni tradisi. Tambur: Journal of Music Creation, Study and Performance.
Yasa, W. G. P., Sidemen, I. A. W., & Wahyuni, A. A. A. R. (2026). Interaksi adat, agama, dan lembaga budaya dalam pelestarian kesenian tradisional: Studi Padepokan Cipto Mudho Laras di Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Jurnal Multidisiplin Ilmu Akademik, 3(3). https://doi.org/10.61722/jmia.v3i3.9949
**Area/Subject** | **Expected Competency**
Gamelan | Introduction to notation | Participants can read symbols and note sequences
Gamelan | Basic *Kiliningan* playing | Participants can play basic patterns
Gamelan | *Jaipongan* playing | Participants understand accompaniment patterns
*Kendang* | Basic *Tepak* | Beginners master basic patterns
*Kendang* | *Tepak* development | Participants can apply variations according to the structure
Ensemble | Tempo and dynamics | Participants can maintain musical stability
Ensemble | *Gending* structure | Participants understand the *bubuka* (intro), *eusi* (body), *naek* (transition/build-up), and *panutup* (closing)
Vocal | Breathing | Participants can control their breathing
Vocal | Articulation | Participants can deliver lyrics clearly
Vocal | Intonation and pitch | Participants can maintain pitch accuracy
Vocal | *Cengkok* and *senggol* | Participants can apply basic vocal ornamentation
Vocal | Lyric interpretation | Participants can build musical expression
Integration | Gamelan and vocal | Participants can synchronize vocals with the accompaniment
Ucapan Terima Kasih














