Jurnal Nusantara, Buleleng, Bali — Banjir bandang kembali menerjang wilayah Desa Banjar, Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng, Provinsi Bali, setelah hujan deras mengguyur kawasan pegunungan pada Jumat malam (6/3/2026). Bencana tersebut tidak hanya merusak permukiman warga, tetapi juga menelan korban jiwa dan memunculkan kembali pertanyaan serius mengenai kesiapsiagaan serta tata kelola lingkungan di wilayah rawan banjir. Berdasarkan laporan sementara dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah Bali, sedikitnya delapan orang warga terseret arus banjir bandang saat peristiwa terjadi. Dari jumlah tersebut, beberapa korban berhasil diselamatkan, tiga orang ditemukan meninggal dunia dan satu korban lainnya masih dalam pencarian oleh tim SAR gabungan. Peristiwa ini menjadi pengingat keras bahwa bencana hidrometeorologi di Bali, khususnya di wilayah Buleleng bagian barat, masih menjadi ancaman serius bagi masyarakat yang tinggal di sekitar bantaran sungai dan kawasan lereng perbukitan.
Menurut keterangan warga setempat, banjir datang secara mendadak setelah hujan deras mengguyur wilayah hulu sejak sore hari. Air yang meluap dari aliran sungai membawa lumpur, batang kayu, serta bebatuan dari kawasan perbukitan.Dalam hitungan menit, arus air memasuki permukiman dan menerjang sejumlah rumah warga.Beberapa korban dilaporkan terseret ketika berada di dalam rumah. Bahkan sebuah rumah warga mengalami kerusakan parah setelah dinding bangunan jebol akibat terjangan air setinggi sekitar empat meter, sehingga penghuni rumah terseret arus.Material banjir juga menimbun jalan desa dan kendaraan milik warga, membuat proses evakuasi pada awal kejadian menjadi sulit.
Tim gabungan dari Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan, aparat TNI-Polri, relawan, serta Badan Penanggulangan Bencana Daerah langsung diterjunkan untuk melakukan pencarian korban.Penyisiran dilakukan di sepanjang aliran sungai hingga beberapa kilometer dari titik awal korban terseret. Namun proses pencarian tidak berjalan mudah. Tebalnya lumpur serta banyaknya batang kayu yang tersangkut di aliran sungai memperlambat operasi evakuasi. Sejumlah korban ditemukan terseret hingga lebih dari satu kilometer dari lokasi awal hanyut.
Selain menelan korban jiwa, banjir bandang juga berdampak luas terhadap kehidupan masyarakat. Data sementara menunjukkan ratusan kepala keluarga terdampak, dengan sejumlah rumah mengalami kerusakan ringan hingga berat. Sebagian rumah bahkan tertimbun lumpur dan puing material yang terbawa arus banjir. Beberapa warga terpaksa mengungsi ke rumah kerabat atau lokasi yang lebih aman karena rumah mereka tidak lagi layak dihuni. Aktivitas masyarakat di desa tersebut sempat lumpuh karena jalan utama tertutup material banjir serta aliran listrik di beberapa titik dipadamkan demi alasan keselamatan.

Bupati Buleleng, Nyoman Sutjidra, meninjau langsung lokasi bencana dan menyatakan bahwa pemerintah daerah telah mendirikan posko darurat serta mengerahkan alat berat untuk membersihkan material banjir.
“Kami fokus pada pencarian korban dan pemulihan kondisi wilayah terdampak. Pemerintah daerah juga menyalurkan bantuan logistik bagi warga yang terdampak bencana ini,” ujarnya.
Meski demikian, sejumlah warga berharap penanganan tidak berhenti pada bantuan darurat semata.
Peristiwa banjir bandang ini kembali memunculkan kritik mengenai minimnya mitigasi bencana di kawasan rawan banjir. Sejumlah pemerhati lingkungan menilai banjir bandang di wilayah Buleleng bukan semata disebabkan oleh curah hujan tinggi, tetapi juga berkaitan dengan kerusakan daerah tangkapan air di kawasan hulu. Alih fungsi lahan, pembukaan kawasan hutan, serta pembangunan yang tidak memperhatikan tata ruang disebut dapat memperparah risiko banjir bandang. Selain itu, sistem peringatan dini bagi masyarakat di kawasan rawan dinilai masih belum optimal. Banyak warga mengaku tidak mendapatkan peringatan sebelumnya sehingga tidak memiliki waktu cukup untuk menyelamatkan diri.
BMKG Ingatkan Potensi Cuaca Ekstrem
Sementara itu, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika mengingatkan bahwa intensitas hujan tinggi masih berpotensi terjadi di wilayah Bali dalam beberapa hari ke depan. Kondisi tersebut meningkatkan risiko terjadinya banjir, tanah longsor, dan bencana hidrometeorologi lainnya, terutama di wilayah yang memiliki topografi perbukitan. BMKG mengimbau masyarakat yang tinggal di sekitar aliran sungai maupun lereng curam untuk meningkatkan kewaspadaan serta segera mengungsi jika terjadi peningkatan debit air secara mendadak.
Banjir bandang di Buleleng kembali menegaskan bahwa bencana tidak hanya disebabkan oleh faktor alam, tetapi juga oleh lemahnya pengelolaan lingkungan dan mitigasi risiko. Tanpa perbaikan tata ruang, perlindungan kawasan hulu, serta sistem peringatan dini yang efektif, tragedi serupa berpotensi kembali terjadi di masa mendatang. Bagi warga Desa Banjar, banjir bandang kali ini bukan sekadar peristiwa alam—melainkan tragedi yang meninggalkan luka mendalam bagi keluarga korban dan masyarakat setempat.










