Jurnal Nusantara, Bandung, Indonesia — Bencana tanah longsor yang melanda Pasirlangu, Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat terus menuai sorotan publik. Jumlah korban tewas kini mencapai 74 orang, sementara puluhan lainnya masih dinyatakan hilang. Peristiwa ini bukan hanya soal alam yang marah, tetapi juga cerminan ketidaksiapan dan lemahnya mitigasi bencana di wilayah rawan longsor.
Tim SAR gabungan — terdiri dari Basarnas, TNI–Polri, relawan, dan warga setempat — masih berjuang menyingkap timbunan material longsor untuk menemukan korban yang tersisa. Kondisi lapangan yang berat, hujan deras, dan akses yang sulit memperlambat upaya penyelamatan. Namun, pertanyaan serius muncul: mengapa wilayah ini tetap rawan dan minim mitigasi, padahal risiko longsor telah lama diketahui?
“Kami terus mencari korban yang tertimbun, meski kondisi lapangan ekstrem. Rumah-rumah hancur, jalan terputus, dan warga kehilangan segalanya,” ujar Kepala Basarnas Bandung, Ade Dian Permana. Pernyataan ini sekaligus menegaskan betapa rapuhnya sistem mitigasi kita ketika menghadapi bencana besar.
Menurut BNPB, sebanyak 74 jenazah telah diidentifikasi dan diserahkan kepada keluarga, sementara puluhan rumah rusak parah dan lebih dari 160 warga kehilangan tempat tinggal. Anehnya, meski kondisi darurat sudah jelas, koordinasi dan persiapan evakuasi masih lamban, menimbulkan pertanyaan tentang efektivitas kebijakan bencana di daerah rawan.
Lebih tragis lagi, 23 anggota TNI AL termasuk di antara korban tertimbun. Fakta ini menegaskan bahwa bencana ini menimpa siapa saja, termasuk aparat negara, karena mitigasi dan peringatan dini yang seharusnya menyelamatkan nyawa belum optimal.
Di media sosial, warganet tak menahan kritik. Banyak yang menyoroti kurangnya sistem peringatan dini, buruknya pengelolaan lahan di kawasan rawan, dan lemahnya infrastruktur penanggulangan bencana. Tagar seperti #JanganBiarkanLongsorTerulang dan #BNPBBertanggungJawab ramai diperbincangkan, menunjukkan bahwa publik tidak lagi mau menerima bencana sebagai “takdir semata”.
Sementara itu, tim SAR masih fokus pada pencarian area yang kemungkinan masih menimbun korban. Namun, tragedi ini harus menjadi alarm keras bagi pemerintah dan pengambil kebijakan: kesiapsiagaan bencana bukan sekadar retorika, tetapi menyangkut nyawa manusia yang nyata.
Bencana di Pasirlangu menjadi simbol dari dilema lama Indonesia: alam bisa memaafkan, tapi sistem kita seringkali gagal melindungi warganya. Hingga hari ini, korban terus berjatuhan, dan pertanyaan pedas publik tetap sama: berapa banyak lagi nyawa harus hilang sebelum mitigasi benar-benar dijalankan?










