Jurnal Nusantara – Pagar Alam, Sumatera Selatan – Peristiwa yang sempat menggegerkan dunia pendakian Indonesia akhirnya berakhir setelah tim gabungan berhasil mengamankan seorang pendaki berinisial R yang diduga membawa senapan angin saat melakukan pendakian di Gunung Dempo, Kota Pagar Alam, Sumatera Selatan. Sebelumnya, pria tersebut dilaporkan melakukan intimidasi hingga mengancam sejumlah pendaki yang sedang menikmati perjalanan menuju puncak gunung tertinggi di Sumatera Selatan itu. Beruntung, tidak ada korban jiwa maupun luka serius dalam insiden yang sempat viral di media sosial tersebut.
Kejadian ini bermula setelah sejumlah pendaki membagikan kesaksian melalui media sosial mengenai keberadaan seorang pria yang membawa senapan angin di jalur pendakian Gunung Dempo. Dalam video dan cerita yang beredar, pria tersebut disebut bersikap agresif, menghentikan beberapa pendaki, mengeluarkan ancaman, bahkan mengaku sebagai “juru kunci” gunung yang sedang mencari seseorang. Kesaksian tersebut dengan cepat menyebar luas dan memicu kekhawatiran di kalangan pecinta alam, mengingat jalur pendakian merupakan kawasan yang seharusnya aman bagi seluruh pengunjung.
Menindaklanjuti laporan tersebut, Balai Registrasi Gunung Api Dempo (BRIGADE) segera berkoordinasi dengan Basarnas, TNI, BPBD, serta relawan untuk melakukan penyisiran di sepanjang jalur pendakian. Tim gabungan bergerak menuju lokasi yang dilaporkan para saksi dengan mengutamakan keselamatan para pendaki yang masih berada di kawasan gunung. Operasi pencarian dilakukan secara cepat guna mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan.
Ketua BRIGADE Dempo, Dian Saputra, menjelaskan bahwa pria tersebut akhirnya berhasil ditemukan dan diamankan pada Senin (27/7). Bersama pelaku, petugas juga mengamankan senapan angin yang dibawanya. Setelah situasi dinyatakan kondusif, yang bersangkutan kemudian diserahkan kepada pihak keluarganya untuk penanganan lebih lanjut. Berdasarkan keterangan keluarga, pria tersebut diduga mengalami gangguan kejiwaan dan selama ini memiliki kondisi psikologis yang memerlukan perhatian khusus. Selain itu, senapan angin yang dibawanya diketahui tidak dalam kondisi siap digunakan karena tidak memiliki tekanan udara.
Meski demikian, aparat dan pengelola pendakian tetap menilai tindakan membawa senapan ke jalur pendakian merupakan perbuatan yang berpotensi membahayakan keselamatan publik. Rasa takut yang muncul di kalangan pendaki menjadi perhatian serius, terlebih ketika pelaku diduga melakukan intimidasi kepada beberapa orang yang ditemuinya selama perjalanan.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, sedikitnya enam pendaki sempat mengalami perlakuan intimidatif dari pelaku. Mereka mengaku dipukul, diperintahkan berendam di air, hingga diminta melepaskan pakaian. Beruntung seluruh korban berhasil menyelamatkan diri sebelum situasi berkembang lebih buruk. Kesigapan tim gabungan dalam merespons laporan tersebut dinilai menjadi faktor utama yang mencegah kemungkinan terjadinya korban jiwa.
Salah seorang saksi berinisial G yang berasal dari Kabupaten PALI mengaku sempat berpapasan langsung dengan pria tersebut di Pos 2 jalur pendakian. Menurut keterangannya, pelaku menghentakkan senapan angin yang dibawanya sambil menanyakan keberadaan orang-orang dari Palembang. Tidak lama kemudian, beberapa pendaki lain juga mengaku mendengar pelaku menyampaikan pernyataan yang membuat mereka merasa terancam sehingga memilih segera turun gunung dan melaporkan kejadian tersebut kepada petugas.
Viralnya video kesaksian para pendaki di berbagai platform media sosial membuat perhatian publik tertuju pada sistem keamanan jalur pendakian Gunung Dempo. Banyak warganet mengapresiasi gerak cepat petugas dalam menangani laporan tersebut, namun tidak sedikit pula yang meminta agar pengawasan terhadap aktivitas pendakian semakin diperketat. Mereka berharap proses pemeriksaan perlengkapan pendaki di pintu registrasi dapat dilakukan lebih optimal guna mencegah masuknya barang-barang yang berpotensi membahayakan keselamatan bersama.
Gunung Dempo sendiri merupakan salah satu destinasi pendakian favorit di Sumatera Selatan yang setiap tahunnya dikunjungi ribuan pendaki dari berbagai daerah. Sebelumnya, pengelola juga telah meningkatkan sistem pengamanan dan menempatkan pengawasan pada sejumlah titik rawan setelah beberapa insiden kecelakaan pendakian terjadi sepanjang tahun ini. Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan aktivitas wisata alam tetap berlangsung dengan aman dan nyaman bagi seluruh pengunjung.
Pihak BRIGADE kembali mengimbau masyarakat agar selalu mematuhi aturan pendakian, melaporkan setiap aktivitas yang mencurigakan kepada petugas, serta tidak mudah terpancing informasi yang belum terverifikasi. Keselamatan pendaki tetap menjadi prioritas utama, sehingga kolaborasi antara pengelola, aparat keamanan, relawan, dan masyarakat dinilai sangat penting dalam menjaga keamanan kawasan Gunung Dempo.
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa kewaspadaan harus selalu dijaga saat melakukan aktivitas di alam bebas. Selain kesiapan fisik dan perlengkapan, komunikasi yang baik dengan petugas serta kepatuhan terhadap aturan pendakian merupakan bagian penting dalam menciptakan lingkungan pendakian yang aman bagi semua orang.














