Palu, Sulawesi Tengah – Gempa bumi tektonik berkekuatan Magnitudo 6,7 yang mengguncang Sulawesi Tengah pada Selasa, 16 Juni 2026, menjadi salah satu peristiwa seismik terbesar yang terjadi di kawasan tersebut sepanjang tahun ini. Gempa yang berpusat sekitar 42 kilometer tenggara Palu pada kedalaman 10 kilometer itu memicu kepanikan luas dan menyebabkan korban jiwa serta kerusakan di sejumlah wilayah.
Berdasarkan data BNPB hingga Selasa malam, satu orang meninggal dunia dan sedikitnya 38 orang mengalami luka-luka. Kabupaten Sigi tercatat sebagai daerah yang paling terdampak, baik dari sisi jumlah korban maupun kerusakan bangunan. Selain itu, ratusan warga dilaporkan terdampak langsung akibat bencana tersebut.
Dari sisi kerusakan fisik, laporan BPBD menunjukkan puluhan rumah warga mengalami kerusakan ringan hingga berat. Beberapa fasilitas umum serta akses transportasi turut terdampak. Di sejumlah desa, tembok rumah roboh akibat kuatnya getaran yang dirasakan masyarakat. Kerusakan juga dilaporkan terjadi pada ruas jalan yang menghubungkan beberapa wilayah terdampak.

BMKG menjelaskan bahwa gempa ini merupakan gempa tektonik dangkal yang dipicu aktivitas sesar aktif di wilayah Sulawesi Tengah. Karakteristik gempa dangkal membuat energi yang dilepaskan terasa lebih kuat di permukaan meskipun tidak menimbulkan tsunami.
Pasca-gempa utama, aktivitas seismik masih terus berlangsung. BMKG awalnya mencatat sembilan gempa susulan beberapa jam setelah kejadian. Namun jumlah tersebut meningkat secara signifikan hingga lebih dari 70 kali pada hari yang sama, dengan gempa susulan terbesar mencapai Magnitudo 5,2. Kondisi ini menunjukkan bahwa proses penyesuaian kerak bumi di sekitar sumber gempa masih berlangsung.
Pengalaman gempa besar dan tsunami Palu tahun 2018 membuat masyarakat Sulawesi Tengah memiliki tingkat kewaspadaan yang tinggi terhadap setiap aktivitas seismik. Karena itu, banyak warga memilih mengungsi sementara atau bertahan di ruang terbuka untuk menghindari risiko apabila terjadi gempa susulan yang lebih kuat.
Pemerintah pusat dan daerah saat ini memfokuskan upaya pada penanganan korban, pendataan kerusakan, serta pemulihan layanan dasar. Tim gabungan BNPB, BPBD, TNI, Polri, dan relawan terus bergerak untuk memastikan kebutuhan masyarakat terdampak dapat terpenuhi sembari menunggu kondisi benar-benar stabil.














