Jurnal Nusanara, Teheran – Perang yang melibatkan Iran melawan Amerika Serikat dan Israel terus menunjukkan eskalasi signifikan sejak pecah pada 28 Februari 2026. Hingga pertengahan Maret, konflik telah berkembang menjadi perang terbuka dengan penggunaan serangan udara, rudal balistik, serta drone tempur dari kedua pihak.
Berdasarkan laporan dari Reuters, Associated Press, Al Jazeera, dan BBC News, serangan awal yang direncanakan oleh Amerika Serikat dan Israel menargetkan fasilitas strategi militer Iran. Dalam serangan tersebut, sejumlah pejabat tinggi militer Iran disebutkan tewas, meskipun rincian resmi masih terbatas.
Sebagai tanggapan, Iran melancarkan serangan balasan besar-besaran dengan ratusan rudal dan drone ke berbagai sasaran yang dianggap memiliki keterkaitan dengan kepentingan militer Amerika Serikat dan Israel di wilayah Timur Tengah. Sasaran tersebut mencakup pangkalan militer, instalasi logistik, serta sistem pertahanan udara di beberapa negara sekutu.
Menurut laporan Reuters, intensitas serangan dalam beberapa hari terakhir meningkat tajam, dengan frekuensi serangan harian yang lebih tinggi dibandingkan fase awal konflik. Sistem penutupan udara di berbagai wilayah dilaporkan bekerja maksimal untuk menahan gelombang serangan yang terus berlangsung.
Di Israel, otoritas militer meningkatkan status siaga nasional. Pasukan Pertahanan Israel memperkuat sistem pertahanan udara, termasuk penggunaan sistem pencegat rudal untuk menghadapi ancaman dari Iran dan kelompok sekutunya. Sirene peringatan serangan udara melaporkan beberapa kali berbunyi di sejumlah kota.
Sementara itu, Amerika Serikat memperluas operasi militernya di kawasan Teluk dengan mengerahkan tambahan kapal perang dan pesawat tempur. Washington menegaskan bahwa langkah ini diambil untuk melindungi pasukan dan sekutu, serta menjaga stabilitas jalur perdagangan global.
Korban jiwa terus bertambah di kedua pihak, meskipun angka pasti sulit ditegakkan secara independen. Laporan AP News menyebutkan bahwa selain korban militer, warga sipil juga terdampak akibat serangan yang terjadi di sekitar wilayah organisasi dan infrastruktur vital.
Situasi ini memicu kekhawatiran luas di tingkat internasional. Perserikatan Bangsa-Bangsa memperingatkan bahwa konflik berisiko berkembang menjadi perang regional yang lebih luas jika tidak segera diredakan. Sejumlah negara berkumpul gencatan senjata dan pembukaan jalur diplomasi.
Selain berdampak buruk pada kemanusiaan, konflik ini juga berdampak pada stabilitas global, termasuk sektor energi dan keamanan pangan. Gangguan distribusi serta meningkatnya ketegangan geopolitik membuat dunia berada dalam kondisi siaga tinggi.
Hingga 18 Maret 2026, belum terlihat tanda-tanda penurunan intensitas konflik. Para pengamat menilai bahwa tanpa intervensi diplomatik yang kuat, eskalasi dapat terus melanjutkan dan menyelamatkan situasi keamanan internasional secara keseluruhan.









