Jurnal Nusantara, Bandung Barat, Sabtu (24 Januari 2026) – Bencana tanah longsor besar melanda Desa Pasirlangu dan sekitarnya, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Sabtu dini hari sekitar pukul 02.30 WIB. Longsor terjadi akibat hujan deras yang mengguyur wilayah tersebut selama dua hari berturut-turut, membuat tanah lereng Gunung Burangrang jenuh air dan rawan longsor. Puluhan rumah warga tertimbun, korban jiwa jatuhan, dan puluhan lainnya masih dinyatakan hilang.
Kronologi Longsor
Hujan deras sejak Kamis (22/1/2026) menyebabkan kondisi tanah di lereng perbukitan Cisarua menjadi labil. Sekitar pukul 02.30 – 03.00 WIB, material tanah, batu, dan pepohonan dari kaki Gunung Burangrang bergerak menuruni lereng, menghantam organisasi di Kampung Pasir Kuning, Pasir Kuda, dan beberapa RW lainnya. Warga yang sedang tidur langsung terjepit material longsor, membuat evakuasi darurat menjadi sangat sulit.
BPBD Kabupaten Bandung Barat mencatat bahwa sekitar 30 rumah terdampak parah, sementara rumah lainnya mengalami kerusakan ringan akibat terjangan material longsor. Puluhan keluarga terpaksa mengungsi ke lokasi aman.
Korban dan Data Terdampak
Hingga Sabtu pagi, data resmi sementara menunjukkan:
- 8 orang meninggal dunia .
- 23 orang berhasil diselamatkan .
- 82 orang masih hilang dan dalam pencarian tim SAR.
- 400 warga dievakuasi ke tempat aman seperti kantor desa Pasirlangu, posko bantuan, dan lokasi pengungsian sementara.
Wakil Bupati Bandung Barat menegaskan:
“Hampir semua rumah di beberapa kampung tertimbun, evakuasi warga menjadi prioritas utama.”
Keluarga korban terlihat menunggu kabar di posko informasi, berharap orang terdekat mereka ditemukan selamat. Banyak warga yang kehilangan rumah, harta benda, dan akses ke fasilitas dasar akibat longsor material yang melanda organisasi.
Upaya SAR dan Penanganan Darurat
Pemerintah Kabupaten Bandung Barat menetapkan status darurat bencana untuk mempercepat pencarian korban dan mengantarkan warga. Tim SAR gabungan dari BPBD, Basarnas, TNI, Polri, serta lawan dengan anjing pelacak K9 diterjunkan ke lokasi.
Operasi menghadapi kendala SAR: medan berat, material longsor tebal, curah hujan yang masih tinggi, dan kemungkinan longsor susulan. Pencarian dilakukan secara manual dengan peralatan berat dan semacam hati-hati untuk menemukan korban tertimbun tanpa membahayakan tim penyelamat.
Selain itu, BPBD Jawa Barat menyiapkan posko logistik, bantuan medis, makanan, dan air bersih untuk para pengungsi. Pemerintah daerah juga mengumpulkan kemungkinan longsor lebih lanjut dengan menutup beberapa akses jalan yang rawan.
Faktor Penyebab Longsor
BNPB mengungkapkan beberapa faktor yang menyebabkan longsor:
- Hujan dengan intensitas tinggi sejak beberapa hari sebelum kejadian.
- Tanah jenuh air yang menyebabkan lereng perbukitan tidak stabil.
- Kemiringan lereng curam di beberapa kampung yang terdampak.
- Permukiman yang berada di zona rawan bencana yang seharusnya sudah diwaspadai sejak awal.
Bencana ini juga terjadi bersamaan dengan banjir bandang di beberapa wilayah Kabupaten Bandung Barat, yang memperbesar dampak sosial dan kerusakan.
Dampak Sosial
- Banyak warga yang kehilangan rumah, harta benda, dan akses fasilitas umum.
- Aktivitas ekonomi terhenti di wilayah terdampak.
- Trauma psikologis terjadi pada warga dan anak-anak yang menyaksikan peristiwa ini.
- Relawan dan warga lainnya membantu membantu evakuasi korban serta membangun dapur umum.
Tips Keselamatan Saat Longsor dan Hujan Ekstrem
- Hindari organisasi di lereng perbukitan atau dekat sungai saat hujan deras.
- Segera mengumumkan jika muncul tanda tanah bergerak (retakan tanah, suara gemuruh).
- Pantau informasi resmi dari BPBD atau media terpercaya.
- Terjadinya keadaan darurat: dokumen penting, udara, makanan ringan, dan obat-obatan.
- Jangan menolong korban sendiri tanpa alat dan tim SAR.
- Tetap tenang dan mengutamakan keselamatan diri dan keluarga.
💡 Selalu utamakan k eselamatan diri dan keluarga, bukan harta benda. Pantau terus Jurnal Nusantara untuk update terbaru dari lokasi bencana.












