Jurnal Nusantara, Jakarta – Penyebaran informasi tidak benar (hoaks) terkait kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) semakin meluas menjelang peringatan April Mop. Selain isu utama kenaikan BBM per 1 April, berbagai versi klaim tambahan ikut bermunculan, termasuk kabar bahwa harga Pertamax akan melonjak hingga Rp17.000 bahkan Rp17.850 per liter.
Informasi tersebut beredar luas di berbagai platform media sosial seperti X (Twitter), TikTok, hingga grup WhatsApp, dan dengan cepat menarik perhatian publik. Narasi yang disertai angka spesifik serta tampilan menyerupai pengumuman resmi membuat sebagian masyarakat percaya dan menganggapnya sebagai informasi valid.
Akibatnya, di sejumlah daerah dilaporkan muncul kekhawatiran masyarakat hingga memicu antrean di beberapa stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), karena adanya kekhawatiran harga akan segera naik drastis.
Namun, pihak pemerintah dan PT Pertamina (Persero) dengan tegas membantah seluruh klaim tersebut. Mereka memastikan bahwa informasi yang beredar tidak memiliki dasar resmi dan tidak berasal dari sumber yang dapat dipertanggungjawabkan.
Perwakilan PT Pertamina menyatakan bahwa hingga saat ini belum ada pengumuman resmi terkait perubahan harga BBM, khususnya untuk jenis nonsubsidi seperti Pertamax. Angka-angka yang beredar disebut murni spekulasi yang tidak didasarkan pada perhitungan resmi perusahaan maupun kebijakan pemerintah.
Sementara itu, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menjelaskan bahwa penyesuaian harga BBM nonsubsidi memang dilakukan secara berkala dengan mempertimbangkan berbagai faktor, seperti harga minyak dunia dan nilai tukar rupiah. Meski demikian, setiap keputusan akan diumumkan secara resmi melalui kanal pemerintah dan badan usaha terkait.
Pemerintah juga menegaskan bahwa BBM bersubsidi seperti Pertalite dan Biosolar tetap tidak mengalami perubahan harga, serta ketersediaan stok nasional dalam kondisi aman. Masyarakat pun diminta untuk tidak melakukan pembelian berlebihan yang dapat mengganggu distribusi.
Sejumlah media nasional turut menyoroti bahwa klaim harga Pertamax tembus Rp17.000 per liter tidak memiliki landasan data yang jelas. Informasi tersebut diduga berasal dari interpretasi liar warganet yang kemudian berkembang menjadi kabar yang seolah-olah faktual setelah disebarluaskan secara masif.
Fenomena ini semakin kompleks karena bertepatan dengan momentum April Mop (April Fools’ Day), yang identik dengan penyebaran lelucon atau informasi palsu. Dalam situasi ini, batas antara informasi faktual dan candaan menjadi kabur, sehingga meningkatkan risiko kesalahpahaman di tengah masyarakat.
Pengamat komunikasi digital menilai bahwa pola penyebaran hoaks seperti ini umumnya memanfaatkan momentum tertentu untuk meningkatkan daya tarik dan mempercepat viralitas. Penggunaan angka yang spesifik, narasi yang dramatis, serta format visual menyerupai pengumuman resmi menjadi faktor utama yang membuat informasi mudah dipercaya.
Selain itu, rendahnya verifikasi informasi sebelum dibagikan ulang juga memperparah penyebaran hoaks. Banyak pengguna media sosial cenderung langsung menyebarkan informasi tanpa memastikan kebenarannya terlebih dahulu.
Pemerintah dan Pertamina pun mengimbau masyarakat untuk lebih kritis dalam menerima informasi, terutama yang berkaitan dengan kebijakan publik yang sensitif seperti harga BBM. Masyarakat diharapkan hanya mengacu pada sumber resmi, seperti situs pemerintah, akun media sosial terverifikasi, atau pernyataan langsung dari instansi terkait.
Di tengah derasnya arus informasi digital, literasi media menjadi kunci penting untuk mencegah kepanikan yang tidak perlu. Publik diharapkan tidak mudah terpancing oleh kabar yang belum terverifikasi, serta berperan aktif dalam menghentikan penyebaran hoaks dengan tidak ikut menyebarkannya.
Dengan klarifikasi dari pihak berwenang, masyarakat diimbau tetap tenang dan menunggu informasi resmi terkait kebijakan harga BBM, sembari tetap waspada terhadap berbagai informasi menyesatkan yang kerap muncul, terutama pada momen seperti April Mop.









