Jurnal Nusantara, Jakarta – PT Kereta Api Indonesia (Persero) mencatat lonjakan signifikan jumlah penumpang menjelang dan selama arus balik Lebaran 2026. Tingginya mobilitas masyarakat membuat tingkat okupansi kereta api melampaui kapasitas normal, bahkan mencapai lebih dari 140 persen pada puncak arus balik.
Berdasarkan data KAI, lonjakan penumpang terjadi secara berturut-turut dalam beberapa hari terakhir. Pada periode 22 hingga 25 Maret 2026, jumlah pelanggan harian mencapai lebih dari 240 ribu orang, dengan tingkat okupansi tertinggi menyentuh sekitar 150 persen.
Secara keseluruhan, jumlah penumpang kereta api selama masa angkutan Lebaran hingga puncak arus balik tercatat mencapai sekitar 4,39 juta orang. Angka ini menunjukkan peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya serta menegaskan tingginya minat masyarakat terhadap moda transportasi kereta api.
Puncak arus balik sendiri diperkirakan terjadi pada H+2 hingga H+3 Lebaran, dengan jumlah penumpang harian sempat menembus lebih dari 300 ribu orang dalam satu hari. Kondisi ini menyebabkan sejumlah stasiun utama dipadati penumpang, terutama di wilayah tujuan seperti Jakarta, Yogyakarta, dan Surabaya.
Di wilayah Daerah Operasi 1 Jakarta, lonjakan penumpang terlihat dari tingginya jumlah kedatangan dibandingkan keberangkatan. Dalam satu hari, tercatat lebih dari 52 ribu penumpang tiba di Jakarta, menandakan arus balik mulai mencapai puncaknya.
Sementara itu, di daerah lain seperti Daop 7 Madiun, jumlah penumpang selama periode angkutan Lebaran mencapai lebih dari 300 ribu orang, dengan puncak arus balik terjadi pada H+2 Lebaran.
Untuk mengantisipasi lonjakan tersebut, KAI menambah kapasitas layanan dengan mengoperasikan sekitar 52 perjalanan kereta tambahan per hari serta menyediakan ribuan kursi tambahan bagi penumpang. Langkah ini dilakukan guna menjaga kelancaran arus balik serta mengakomodasi tingginya permintaan tiket.
Selain itu, penjualan tiket juga menunjukkan tren yang sangat tinggi. Hingga menjelang puncak arus balik, tiket kereta api telah terjual lebih dari 90 persen dari total kapasitas, bahkan untuk kereta jarak jauh tingkat keterisiannya telah melampaui 100 persen.
KAI menjelaskan bahwa tingkat okupansi di atas 100 persen merupakan hal yang wajar dalam operasional kereta api. Hal ini dimungkinkan karena satu kursi dapat digunakan oleh lebih dari satu penumpang dalam perjalanan berbeda (relasi parsial).
Lonjakan penumpang ini juga mencerminkan perubahan pola perjalanan masyarakat yang semakin memilih moda transportasi kereta api karena dinilai lebih aman, nyaman, dan tepat waktu dibandingkan perjalanan darat yang berisiko macet.
Meski demikian, KAI mengimbau masyarakat untuk merencanakan perjalanan dengan baik, termasuk memilih jadwal alternatif di luar tanggal favorit guna menghindari kepadatan. Penumpang juga diminta datang lebih awal ke stasiun dan mengikuti arahan petugas demi kelancaran perjalanan.
Dengan tingginya mobilitas selama arus balik Lebaran, kereta api kembali menjadi salah satu moda transportasi utama pilihan masyarakat Indonesia.






