Jurnal Nusantara, Yogyakarta – Aktivitas vulkanik salah satu gunung api aktif di Indonesia kembali mencuri perhatian publik setelah pemantauan terbaru mencatat puluhan gempa guguran dalam periode pengamatan pagi ini. Data dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menunjukkan bahwa sejak pukul 00.00–06.00 WIB, terjadi 36 kali gempa guguran di Gunung Merapi yang masih berstatus Level III (Siaga).
Menurut laporan resmi PVMBG, gempa‑gempa tersebut memiliki amplitudo antara 2 – 23 mm dengan durasi getaran masing-masing antara 70–160 detik. Selain itu, tercatat juga adanya puluhan kejadian gempa lain seperti gempa hybrid dan fase banyak yang mencerminkan peningkatan kegempaan.
Koordinator pemantauan gunung mengingatkan bahwa potensi bahaya saat ini masih meliputi guguran lahar dan awan panas terutama di sektor selatan hingga barat daya, termasuk aliran Sungai Bedog, Krasak, dan Boyong yang menjadi jalur potensi material vulkanik ke hilir. PVMBG juga menyoroti kemungkinan material lontaran vulkanik hingga radius sekitar 3 kilometer dari puncak jika aktivitas meningkat tajam.
“Pemantauan visual yang menunjukkan gunung tertutup kabut dan asap kawah saat ini tidak terlihat, tetapi aktivitas kegempaan masih tinggi,” ujar pengamat dari PVMBG.
Warga dan pengunjung di wilayah jalur potensi bahaya diminta untuk tidak melakukan aktivitas di sektor rawan dan tetap waspada terhadap ancaman awan panas serta lahar, terutama saat hujan turun di kawasan lereng.
Gunung Merapi, yang berdiri di perbatasan Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah, merupakan salah satu gunung api paling aktif di Indonesia dan secara konsisten memantau untuk mencegah aktivitas vulkanik yang dapat berdampak pada pemukiman di sekitarnya.







