Jurnal Nusantara, Jakarta – Duka mendalam menyelimuti Tanah Air. Mantan Wakil Presiden Republik Indonesia ke-6, Try Sutrisno, mengembuskan napas terakhirnya pada Senin pagi pukul 06.58 WIB di RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta. Ia wafat dalam usia 90 tahun, meninggalkan jejak panjang pengabdian yang tak terpisahkan dari sejarah militer dan pemerintahan Indonesia.
Kepergian Try Sutrisno bukan sekadar kehilangan seorang mantan pejabat negara. Bangsa ini melepas seorang prajurit yang menapaki jalan pengabdian sejak usia muda, melewati berbagai fase genting perjalanan republik.
Dari Surabaya untuk Indonesia
Lahir di Surabaya pada 15 November 1935, Try Sutrisno tumbuh dalam suasana perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Sejak remaja, ia telah merasakan denyut pergolakan bangsa. Semangat itu yang kemudian membawanya masuk ke dunia militer sebuah jalan hidup yang ia tekuni dengan disiplin dan loyalitas tinggi.
Kariernya ditempa di berbagai medan tugas. Ia pernah terlibat dalam operasi-operasi militer penting dan memegang sejumlah jabatan strategis di tubuh Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI). Rekam jejaknya menanjak, dari komandan satuan hingga akhirnya dipercaya menjadi Panglima ABRI jabatan tertinggi militer pada masanya.
Bagi rekan-rekannya, Try Sutrisno dikenal sebagai sosok yang tegas, lugas, dan sederhana. Ia bukan perwira yang gemar tampil di depan sorotan, melainkan prajurit yang bekerja dalam senyap dan menjunjung tinggi hierarki serta tanggung jawab.
Mendampingi Soeharto di Puncak Kekuasaan
Pada Sidang Umum MPR 1993, ia dipilih menjadi Wakil Presiden Republik Indonesia periode 1993–1998, mendampingi Presiden Soeharto. Penunjukan itu menjadi puncak perjalanan panjangnya dari barak militer menuju Istana Negara.
Sebagai Wakil Presiden, Try Sutrisno dikenal berhati-hati dalam berbicara namun tegas dalam prinsip. Ia banyak terlibat dalam urusan stabilitas nasional dan pembinaan pertahanan keamanan. Masa jabatannya berlangsung pada periode yang penuh dinamika, menjelang perubahan besar dalam sejarah Indonesia pada akhir 1990-an.
Setelah tak lagi menjabat, ia memilih lebih banyak berada di balik layar. Meski tak lagi memegang jabatan formal, pemikirannya kerap menjadi rujukan dalam diskursus kebangsaan dan pertahanan.
Suasana Duka dan Penghormatan Terakhir
Sejak kabar wafatnya tersebar, sejumlah tokoh nasional, purnawirawan TNI, hingga pejabat negara berdatangan ke RSPAD untuk memberikan penghormatan terakhir. Tangis keluarga dan sahabat mengiringi kepergian sosok yang dikenal disiplin sekaligus hangat dalam lingkaran terdekatnya.
Jenazah almarhum disemayamkan di kediaman keluarga di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, sebelum dimakamkan dengan upacara militer sebagai bentuk penghormatan negara atas jasa-jasanya.
Bagi banyak prajurit, Try Sutrisno adalah teladan tentang kesetiaan pada sumpah prajurit. Bagi generasi muda, ia adalah potret tentang bagaimana seorang anak bangsa dapat menapaki tangga pengabdian hingga puncak kepemimpinan nasional.
Kepergiannya menutup satu bab penting dalam sejarah Indonesia—bab tentang seorang prajurit yang mengabdikan hidupnya untuk negara, dari masa revolusi hingga era modern.
Indonesia berduka.
Semoga almarhum mendapatkan tempat terbaik di sisi Tuhan Yang Maha Esa, dan segala pengabdiannya menjadi amal jariah bagi bangsa dan negara.










